“KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA” (Part I)

2013 …. Saat niat dan usaha saya berjalan seiringan, impian yang tak mungkin menjadi mungkin. Mungkin mimpi saya terlihat biasa saja bagi sebagian orang yang mampu secara materil. Tetapi kala itu, sungguh keinginan untuk bisa mengenyam pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi adalah suatu yang sangat tidak mungkin, dengan kondisi saya yang tidak mampu. Kala itu, banyak yang mentertawakan mimpi saya, dan yakin saya akan gagal.

………………………………….The stories…………………………………….

Ayah sudah lama meninggal sejak saya masih di usia 1 tahun. Saat Ayah pergi, Nenek tinggal bersama dengan Ibu, Saya dan Kakak saya. Tidak hanya nenek saja, namun di rumah peninggalan Ayah, semua anak-anak nenek ikut tinggal bersama kami. Kondisinya begitu baik, saat saya kehilangan Ayah, namun berbagai sosok terbaik mengeliling saya dan menyangi saya dengan sepenuh hati. Ibu, Nenek, Tante, semuanya bekerja.

Dan semua berjalan sangat baik sampai…………. Ibu di PHK dari pekerjaannya, Nenek sudah mulai sakit-sakitan dan Tante saya menikah lalu memiliki keluarganya sendiri. Keadaan membuat Ibu harus bekerja diluar kota, demi keuangan yang lebih baik. Lalu saya dan kakak tinggal bersama nenek. Nenek mengurusi kami.

Kondisi belum membaik, dan di SMA saya dan kakak saya mulai belajar membiayai semuanya sendiri. Semua keperluan pribadi dan sekolah harus bisa kami penuhi karena kami tahu hasil yang Ibu dapatkan di kota orang, hanya bisa untuk makan sehari-hari, dan tak jarang Nenek harus berdagang untuk melengkapi kekurangan dari keperluan dapur.

Dana sekolah yang dulu pernah ibu simpah untuk pendidikan kami terkuras sedikit demi sedikit hingga akhirnya tak bersisa. Saya tak akan pernah putus sekolah, yang saya tekankan apapun keadaannya saat itu saya harus bisa lulus dan tetap membanggakan orang-orang yang saya sayangi. Allah pun tak pernah tidur, saya tahu Allah selalu menolong umat-Nya. Allah menolong saya lewat belas kasih dari donatur yang dermawan terhadap anak yatim.

191245_200663066619047_6454555_o

Zhafira Nadiah SMA

Di usia 15 tahun (1 SMA) saya pun mulai berjualan jajanan warung dan pulsa yang saya jajakan di kelas dan berkeliling ke kelas-kelas lainnya pada saat jam istirahat. Yang paling saya ingat saat itu adalah ketika saya membawa dagangan dengan naik metro mini. Suasana pagi yang diisi banyak anak sekolah ke arah yang sama selalu menarik perhatian mereka dengan kondisi saya yang membawa dagangan. Mungkin mereka berpikir “Ini orang mau sekolah atau mau ngapain yaaa”…  Saya menjalani dan saya tidak pernah malu.

Suatu hari di bangku 2 SMA, saya mendapat sepeda bekas om Saya. Saat itu saya sangat senang, karena untuk pergi ke sekolah saya bisa menghemat ongkos. Saya mulai ke sekolah naik sepeda. Jarak dari Tegal Parang ke Pasar Minggu dan sebaliknya tak dirasakan lagi, karena bagi saya justru ini moment yang sangat bagus karena penghematan sekaligus olahraga. Ada satu moment dimana saya pulang dengan sepeda dan saya melihat teman-teman saya naik mikrolet 42 ke arah pulang. Saat itu saya membalap mikrolet tersebut dan membuktikan bahwa saya bisa lebih cepat dengan bersepeda dibandingkan naik mikrolet (angkot ini jalannya lama).

Saya sudah mulai berbeda dengan teman-teman saya yang mungkin kehidupannya jauh lebih baik daripada saya. Pernah sakit hati dengan kondisi ini, karena ada satu guru yang secara tidak langsung menghina kondisi saya yagn berbeda dengan mereka. Sakiiiiitttttt bangettt perlakuannnya terhadap saya, yang membuat sampai saat ini saya ingat dengan jelas kejadiannya, but it’s okay, saya sudah memaafkannya.

Teman…. Layaknya tempat sosial lainnya, disekolah ada yang baik dan ada juga yang kurang baik. Dan teman… saya ingin berterima kasih ke teman sepermainan saya dilingkungan rumah. Dia tahu kondisi saya, dan saat itu dia memberikan saya pekerjaan sebagai tukang cuci pribadinya. Bayaran yang didapat saat itu lumayan, bisa menambah uang jajan dan uang tugas. Cuci gosok pakainan teman saya terlihat ringan karena saya lakukan dibarengi dengan saya mencuci pakaian saya sendiri.

Urusan Jodoh Tak Perlu Risau, Pada Saatnya Allah Pilihkan Yang Terbaik

jodoj

Di usia yang sudah mulai melewati angka 22, sedikit banyaknya tentu akan memiliki pemikiran  ke arah pernikahan. Terlebih, beberapa teman, kerabat, saudara, kakak kelas, dan bahkan adik kelas sudah ada yang menikah. Hal yang paling diidam-idamkan manusia pada umumnya ini, tak jarang membuat problematika hidup semakin rumit, karena ketika orang-orang disekitar kamu sudah menikah dan kamu belum menikah, hmmm pasti pertanyaan klasik dengan jurus terjitu akan mengenai kamu. Yupsssss… “Kapan Nikah?” , pertanyaan dengan 2 suku kata yang bisa membuat orang lain diam, berpikir, dan mungkin tersinggung akan makin sering terdengar seiring dengan bertambahnya usia.

Hufft… saya pikir saya tidak akan mengalami ini, tapi ternyata perputaran waktu justru mengantarkan saya pada pertanyaan yang mangandung seribu jurus. Beberapa teman sebaya saya sudah menikah, namun ada pula yang masih menanti jodoh, dan beberapa justru risau karena jodohnya tak kunjung datang. Mereka takut kalau nantinya tidak ada laki-laki yang menikahinya (terlebih katanya stock cowok mulai berkurang dampak dari penyuka sesama jenis), takut kalau menikah nantinya menjadi pilihan yang salah, dan perasaan campur aduk lainnya.

Risau, gelisah, takut, galau. Apa itu perlu dilakukan ? Sepertinya tidak. Katanya, setiap orang sudah memiliki jodohnya masing-masing. Allah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan, pun halnya dengan yang akan diberikan ke kita. Yakinlah, jodoh itu sudah diatur oleh pembuat scenario terbaik, Allah SWT. Jika saat ini kita belum menemukan jodoh kita, berarti ini adalah masa dimana kita harus memperbaiki diri.

Terus melakukan hal-hal baik yang Allah sukai, dan hal baik pun akan kembali ke kamu termasuk dipilihkan jodoh terbaik. Dalam masa penantian jodoh, kamu tidak perlu berpacaran atau berganti-ganti pasangan, jalani saja segala sesuatunya sesuai dengan apa yang agama perintahkan. Berat memang, saya pun juga sedang berusaha untuk menerapinya meskipun banyak sekali godaan yang bisa meluluhkan keteguhan iman. Tetapi justru karena usaha keras kamu berpegang teguh pada apa yang diajarkannya, Allah  memberikan nikmat yang bahkan sampai membuat mu tidak mampu berucap apa-apa selain “Alhamdulillah”, dan rasa syukur yang berulang-ulang.

Lalu, kamu tidak perlu terburu-buru berburu jodoh. Ingat, sesuatu yang terburu-buru mungkin tidak berujung baik, karena seringkali perasaaan terburu-buru membuat kita gelisah dan lebih menggunakan hawa nafsu dibandingkan akal sehat. Hasilnya nanti yang ada malah menyesal. Perlahan-lahan dan ikuti saja jalan yang sudah Allah pilihkan, inshAllah segala sesuatu yang datangnya dari Allah tidak akan pernah salah dan mengecewakan.

Jika saat ini kamu masih sendiri, dan belum terlihat “hilalnya” jodohmu, bersabarlah. Tak perlu iri dengan mereka yang sudah menikah dan berpasangan, justru saat seperti ini kamu juga bisa mengeksplore diri kamu kan ? sebab kalau sudah ada pasangan nanti tentu kamu akan memiliki batasan-batasan disetiap langkah yang kamu ambil. Jadi, dinikmati saja dulu masa kesendirianmu, sambil berhijrah dan memperbaiki diri disetiap harinya.

Allah itu adil, Allah juga Maha Penyayang, Allah akan pilihkan jodoh yang terbaik untukmu. Jodoh yang mungkin bukan kamu inginkan tetapi sebenarnya kamu butuhkan, jodoh yang senantiasa akan bersama kamu hingga nanti maut yang pisahkan, Jodoh yang tidak membuatmu silau dengan gemerlapnya dunia, tetapi justru menuntunmu untuk lebih taat kepada-Nya. Jodoh yang sengaja Allah pilihkan agar ketika kamu jatuh hati padanya, semakin Jatuh pula hatimu kepada Allah, bukan membuat kamu berpaling dari-Nya.

Saya yakin, Allah pun akan memilihkan jodoh yang terbaik untuk saya, entah kapan waktunya tiba, yang jelas saya masih harus banyak belajar menjadi lebih baik dan terus lebih baik untuk Allah. Semoga sampai saatnya tiba, Allah berikan yang agamanya bagus. Aamiin..

When I decided Not to Get Married

Beberapa waktu lalu saya membuat sebuah postingan di media sosial yang secara tidak langsung mendeklarasikan bahwa saya tidak tertarik untuk berpacaran bahkan menikah. Sontak postingan saya menuai banyak komentar dari orang-orang terdekat saya yang merasa mereka harus menegur atau menasehati saya bahwa itu semua bukanlah suatu pilihan yang tepat.

Saya memang berpikir bahwa menikah bukanlah sebuah keharusan. Bahkan kalau melihat kisah terdahulu, Siti Maryam pun hidup tanpa seorang pasangan hingga akhir hayatnya. Menikah justru membuat seseorang menyerahkan diri kepada sebuah permasalahan. Semua orang tahu bahwa sebuah rumah tangga tentu memiliki permasalahan entah itu kecil ataupun besar. Lalu kenapa saya harus memilih untuk terlibat dalam sebuah masalah jika saya bisa menghindarinya?

Menikah… sebuah hal yang indah mungkin namun juga bisa menjadi sebuah mimpi buruk dalam kehidupan. Beberapa orang berhasil membina rumah tangga mereka, namun tidak sedikit pula yang gagal dalam mempertahankan rumah tangga. Semua kegagalan itu berasal saat orang-orang tersebut memutuskan untuk menikah.

Saya tahu, jika Ibu dan Ayah saya tidak menikah saya tidak mungkin ada saat ini. Namun, entahlah saya hanya berpikir bahwa tidak menikah adalah sebuah pilihan yang tepat. Dengan tidak menikah, saya bisa mengejar apa yang saya cita-citakan, saya bisa kuliah lagi, berkarir, menjelajah ilmu dan juga menikmati masa-masa kesendirian itu bersama keluarga saya. Lalu apakah pemikiran saya salah? Jika saya menikah, belum tentu orang yang menikahi saya akan mengizinkan saya untuk mengejar impian saya, pasti sudah ada batasan-batasan yang dia berikan.

Saya pernah membayangkan dan hampir merealisasikan membangun sebuah rumah tangga. Dalam benak saya kala itu, rumah tangga saya akan sangat indah, penuh dengan keharmonisan, kasih sayang dan rasa ingin senantiasa bersama disaat suka maupun duka, baik di dunia maupun diakhirat kelak. But you know what? It’s all just a bullshit! That dreams have been disappeared.

Okay balik lagi ke pokok awal tulisan ini, jadi beberapa orang yang secara serius menasehati saya memberikan pandangan agama tentang keputusan saya, yang menurut mereka itu semua menyimpang dari ajaran agama. Jujur, itu semua membuat saya mencari-cari apakah keputusan ini salah? Jelas Salah! Saya Salah! Agama justru memerintahkan untuk menikah, memperbanyak keturunan, dll. Menikah memang tak selalu berbuah manis, namun menikah bisa menjadi ladang ibadah yang terus menerus. Menikah itu membawa berkah asal niatnya untuk ibadah. Lalu, dalam masa pencarian ini, justru membuat saya berpikir, hmm mungkin saya akan menikah tahun depan. Oh My God, I know this is really crazy.

Hmm.. entah bagaimana akhirnya, yang jelas saat ini saya hanya berusaha untuk terus fokus memperbaiki diri saya dan mungkin sampai waktu yang Allah tentukan, saya akan menikah.

Rumah Penuh Berkah

Rumah

Disuatu hari kamu akan hidup ditempat yang membuatmu nyaman yang kamu jadikan tempat berlindung dari panas dan hujan serta yang nantinya menjadi tempat untuk kamu berkumpul dengan orang-orang yang kamu sayangi. Pernah dengar istilah “Rumahku adalah Istanaku” ? Saya yakin pasti semua orang tahu istilah tersebut. Entah itu besar-kecil, mewah-sederhana, strategis ataupun tidak, rumah tesebut akan menjadi tempat untukmu pulang, dan menikmati sisa-sisa kepenatan dari rutinitas yang mungkin membuatmu bosan, dia akan tetap menjadi Istanamu.

“Tidak, rumahku seperti nereka”, Beberapa orang mungkin berpendapat demikian. Apa yang terjadi? Bukankah rumah harusnya menjadi tempat yang menyuguhkan kedamaian dan kehangatan? Tetapi mengapa mereka berpikir rumah justru menjadi sarang permasalahan yang ada, tidak ada kebahagiaan, tidak ada kehangatan, yang ada hanyalah cacian, makian, dan saling membenci, yang bahkan membuat penghuninya tak betah namun terpaksa untuk tetap tinggal.

Saya mencoba untuk memahami dan memperhatikan bahwa sejatinya rumah yang menjadi istana bagi penghuninya adalah rumah yang dibangun dan dilandaskan oleh rasa saling kasih-mengasihi dan menyayangi diantara mereka. Rumah itu disebut rumah penuh berkah. Sekalipun rumah tersebut tidak besar, berada dipemukiman kumuh, dan mungkin hanya berlantaikan tanah, itu tak menjadi penghalang sebuah istana. Gambarannya, Rumah yang penuh berkah adalah rumah yang sering dikunjungi oleh para saudara, sahabat, dan kerabat. Mereka datang untuk bersilaturrahmi, dan mungkin merindukan sang tuan rumah karena bertemu dengan sang tuan rumah adalah suatu hal yang berharga. Rumah tersebut akan ditanami dengan sejuta kebaikan, berada didalamnya sangat sejuk kendati tidak menggunakan AC, didalamnya para penghuni senantiasa melantunkan ayat suci Al-Quran, entah pada saat setelah solat ataupun ketika dipertengahan malam ketika semua orang terbaring tidur. Rumah yang penuh berkah akan membuat penghuninya sangat ingin segera sampai rumah dan enggan berlama-lama diluar rumah. Rumah yang penuh berkah bertabur banyak senyuman bukan kekecewaan.  Jika kau mendapati rumahmu seperti neraka cobalah untuk mengintropeksi dirimu.

Apa yang kau bangun adalah apa yang kau dapatkan. Keberkahan dari persinggahan yang kau tinggali tentu akan hilang jika kau tidak saling menyayangi, jika setiap harinya kau terus bertengkar dengan para penghuninya. Pertengkaran tidak akan meyelesaikan masalah, kawan. Bukankah nabi mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi? Bukankah pertengkarang adalah sifat dari para pembenci Adam? Lalu tidak kah kau sadar ketika kau saling membenci itu adalah iblis yang sedang berusaha memasuki hatimu dan mengganti kedamaian menjadi sebuah kerusakan.

Jadi semua saya kembalikan kepada masing-masing pribadi, ingin membentuk tempat mereka berteduh menjadi sebuah istana ataupun sebuah nereka. Mungkin bukan kau yang menjadi penyebab pertengkaran dalam keluarga, namun kau masih berdoa agar si pembuat onar dapat berubah, ya meskipun semua tak instant. Semua orang ingin memiliki istananya, ingin hidup di rumah yang penuh berkah. Namun bagaimana mungkin kau bisa mendapatkan rumah penuh berkah jika tak dari sekarang kau merubahnya?I Indah sekali bukan gambaran atas rumah penuh berkah? Saya harap, kau, saya, kita semua dapat menemukan kenyamanan dalam sebuah istana yang penuh cinta dan keberkahan.

Fir, Persahabatan itu seperti apa?

IMG_20170911_215904_289Hari ini seseorang bertanya kepada saya, menurut saya persahabatan itu seperti apa? Saya tak langsung menjawab, hanya menatap orang tersebut dan berpikir kenapa dia harus bertanya seperti itu. Baiklah, saya jawab sesuai dengan yang terlintas dipikiran saya.

Persahabatan bagi saya layaknya sebuah mainan balok (building block toys). Kau tahu? Kita akan susah payah membangun, membentuk, dan membuatnya menjadi rupa yang kita inginkan. Setelah jadi, tentu saja kita akan bahagia melihatnya. Namun, balok-balok tersebut tidaklah sekokoh tembok, mereka sangat rapuh dan bisa runtuh kapan saja, selagi ada hal yang membuatnya runtuh. Bahkan hanya sekedar angin yang berhembus lebih kencang pun bisa membuatnya runtuh. Ya, itulah definisi persahabatan yang saya selami.

Tahap pertama adalah membangun. Membangun sebuah persahabatan tidaklah mudah. Kamu perlu menemukan tombol “click” diantara kamu dan orang tersebut. Seperti layaknya hubungan sepasang kekasih, kamu akan saling mencari kenyamanan. Saat membangun adalah saat tersulit, karena kamu akan benar-benar menyeleksi mereka, dan bertanya apakah kamu akan bersahabat dengan mereka atau tidak. Begitupun dengan mereka yang akan menyeleksimu dalam saringannya.

Setelah kamu menjalani tahap pertama, selanjutnya kamu akan berada ditahap yang menurut saya ini yang tersulit, karena kamu harus bisa menjaga persahabatanmu. Kamu akan berada pada posisi dimana kamu harus bisa menerima kekurangannya apapun itu. Sungguh sulit bukan? Dengan sikap manusia yang berbeda-beda, kekurangan masing-masing sahabat harus bisa ditolerir. Ya setidaknya kamu harus belajar menerima itu, sekalipun hal yang dia lakukan adalah hal yang sangat tidak kamu sukai. Tetapi memang tidak jarang para sahabat akan bicara langsung tentang apa yang tidak dia sukai dari kamu, dan ada pula yang hanya bisa mendumel dibelakang. Menjaga persahabatan memang tidak mudah, terlebih ketika kamu sedang sibuk dengan pekerjaan, rutinitas, atau hal-hal lainnya yang membuat pertemuan dengan sahabatmu semakin sedikit. Saat itulah bisanya persahabatan akan mulai renggang, dan yang bisa merekatnkannya kembali adalah kamu dan sahabat-sahabatmu itu. Tidak bisa hanya kamu atau sahabatmu saja yang mencoba untuk merekatkannya. Kalian harus bekerja sama dalam hal ini.

Jika kamu tak bisa melewatinya, persahabatan pun runtuh! Ya seperti kumpulan balok yang saya bilang. Dengan sangat mudah runtuh karena mereka begitu rapuh. Boleh jadi hanya karena kesalahan sedikit, frekuensi pertemuan yang berkurang, sifat diantara kamu dan sahabatmu yang berubah, mulai ada rahasia-rahasia diantara kamu dan sahabat-sahabatmu, serta ketidaknyamanan diantara persahabatan itu yang membuat apa yang telah terbangun hancur begitu saja.

Mundur, menjauh, dan lama-lama menghilang. Setelah kamu melihatnya lagi, kalian akan seperti bertemu dengan orang asing. Ada beberapa orang yang berusaha keras untuk memiliki “Sahabat”, namun ada pula orang yang berusaha keras untuk melupakan “Sahabat”. Saya kembali ke definisi bahwa manusia itu unik, karena terlampau unik mereka kadang suka terbawa dengan egonya masing-masing.

Single? Siapa Takut!

Being IMG_20170831_064035_335single isn’t a bad thing. Banyak hal yang dapat kamu lakukan ketika kamu single. Begitupun dengan yang saya alami sampai detik ini saya menjalani hidup tanpa pasangan, semua terasa lebih membahagiakan dan lebih menakjubkan. So guys, i’d like to share you about being single, and these are the reason why you should be happy you are single:

  1. FREEDOM! Hal utama yang paling membahagiakan ketika kamu single adalah kamu dapat bebas melakukan hal yang kamu suka tanpa mengimbangi perasaaan pasanganmu. Kamu juga akan bebas jalan kemanapun kamu mau dan tentunya dengan siapapun. Bayangkan! bagaimana seringkali tersiksanya orang yang sudah berpasangan karena kehidupan mereka terlalu diatur oleh pasangan mereka dan mereka juga harus sering berkompromi ataupun mengalah dengan pasangan. Sangat menyedihkan! Terlebih di usia yang masih muda adalah usia emas untuk mengeksplore segalanya, baik dari pertemanan, kehidupan, jalan-jalan, organisasi, ataupun hal-hal lainnya yang hanya bisa dinikmati selagi kamu masih muda. Sayang sekali rasanya jika itu semua harus terenggut hanya karena kamu dikekang oleh pasanganmu sendiri.
  2. Saving money. Pacaran adalah kondisi dimana kamu harus mengeluarkan uang pribadimu atau bahkan uang orang tuamu agar membuat pasangannya senang, setidaknya kalau kamu pacaran di warung bakso pun kamu pasti akan mengeluarkan uang.  Tidak perlu memikirkan hadiah untuk pacar ketika ulang tahun, karena biasanya kamu akan membelikan sesuatu hal yang sangat spesial yang belum tentu kamu akan berikan ke orang tua, adik, ataupun kakak kamu. Hmm uang jajan 100.000 dan kamu harus rela menabung untuk membelikan pasanganmu hadiah yang harganya 1.000.000. Duh.. Apa gasayang uangnya? Andai saja kamu belikan hadiah untuk ibumu seharga kamu membelikan untuk pacarmu, pasti ibu mu akan lebih senang dan makin sayang sama kamu. Apalagi kalau uangnya ditabung untuk jalan-jalan ataupun beli barang yang kamu suka. Percaya deh, itu akan lebih bermanfaat. Beliin hadiah pacar 1.000.000 terus abis itu putus, duuuh sayang uangnya!
  3. Build Deeper Connection With People. “Cin, main yuk kesini”, “Aduh nggak deh gue udah ada janji mau jalan sama cowok gue”. Siapa hayooo yang sering digituin sama temennya pas mau ngajakin jalan? Ya sebagian dari kalian pasti pernah ngalamin hal tersebut. Case ini gajauh beda sih sama Freedom, tapi yang sudah saya alami pacaran itu justru nutup pintu pertemanan. Ya memang gasemuanya mengalami seperti saya, but most couple at this time do it. hiks , but don’t be sad! karena ketika kamu single itu adalah saat-saat emas untuk kamu lebih banyak menjalin pertemanan. Kamu bisa berteman dengan siapapun dan jalan sama mereka. Saya pun sampai sekarang tidak pernah merasa khawatir tidak memiliki pasangan, karena saya justru lebih banyak melakukan hal-hal gila yang tidak pernah bisa saya lakukan ketika saya punya pasangan. Memiliki banyak teman yang beragam. Hal yang paling saya rasakan perbedaan ketika berpasangan dan single adalah, saat memiliki pasangan dan kita ada masalah pasti kita akan bercerita ke pasangan kita dan dengan senang/kurang senangnya mereka akan memberikan nasihat atau solusi kepada kita, itu memang baik dan sangat wajar dilakukan oleh pasangan. But did you realize that you only get an advise or solutions from one person. Biasanya kamu akan sangat mendengarkan masukan dari pasanganmu tapi bagaimana kalau masukan itu kurang baik atau bahkan memang tidak baik? Berbeda ketika kamu memiliki banyak teman dekat ataupun sahabat, kamu bisa meminta masukan dari mereka dan pastinya karena berbeda orang pasti masukan dan solusi yang diberikan pun juga berbeda-beda. So… pikiran kamu akan lebih terbuka dan kamu pun bisa lebih menyaring serta menentukan mana yang terbaik. Selain itu, menjalin hubungan dengan banyak orang juga akan memberikan keuntungan untuk kamu. Setiap orang punya keunikan masing-masing dan ketika kamu berteman dengan mereka ada saja pengalamna-pengalaman yang bisa kamu ambil dan bermanfaat bagi kamu. Pas kamu sedih juga, kamu tidak hanya dihibur oleh satu orang, tapi ada banyak orang yang akan menghibur kamu, dan kamu juga akan lebih pintar karena kamu akan lebih banyak sharing dengan orang-orang hebat yang berkeliaran diluar sana. So wake up guys! you’re so lucky to be single!
  4. Get Happier. Hello mblo… i mean hello single people! Are feeling happy and much better? Kalau saya sih iya. Sangat bahagia! Happiness is a choice and i choose to be happy. Kebahagiaan itu tidak terbentuk hanya karena kamu memiliki pasangan, tapi kamu justru bisa lebih bahagia tanpa pasangan. Eskpresikan dirimu dan buang mindset kamu yang sangat terpuruk ketika tidak memiliki pasangan. Diluar sana banyak loh yang justru menderita karena punya pasangan dan sangat iri dengan posisi kita sebagai single people. You can create your own happiness by doing a lot of things. Mulai dari bekerja atau sekolah yang lebih produktif, menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri dan keluarga, serta makin banyak membuka peluang kamu untuk maju jadinya.

Intinya, banyak banget keberuntungan dan kebahagiaan yang bisa kita ambil selama kita single! Kamu gaperlu malu apalagi minder ketika kamu belum punya pasangan. Justru inilah saat dimana kita bisa menunjukan kebanyak orang kalau single itu tidak selalu rendah, single itu tidak selalu bisa dipojokan. Kita single bukan karena kita tidak laku tetapi karena kita terlalu berkualitas dan selektif. Untuk apa kita memiliki status yang hanya membuat kita terus-terusan terpenjara. Jadi para single, kita harus buktikan kalau kita ini Single berkualitas. And Guys! Kalau memang sudah waktunya, kita akan mendapatkan seseorang yang baik dari yang terbaik dan nantinya akan datang diwaktu yang tepat disaat Tuhan udah takdirin kita untuk tidak menjadi Single karena Tuhan melihat Single people seperti kita berhak untuk mendapatkan yang sepantasnya. So.. just have fun with you own life right now!

Manusia diantara Perasaan dan Akal

Manusia itu memang makhluk yang unik.

Kadang mereka tahu kalau api itu panas

tapi mereka tetap menggenggamnya keras.

Mereka tahu kalau jalan itu buntu

tapi langkah mereka tetap tertuju.

dan bahkan mereka tahu kalau dasar lautan itu sangatlah dalam

tapi mereka tetap menyelam.

Ya, itulah manusia… Mereka seringkali mengesampingkan akal dibandingkan perasaan.

Lalu apakah berbahaya bila kita terus menggunakan perasaan? Tentu saja! Sebab perasaan selalu mengantarkan ketempat dimana kita bisa terjebak dalam derai air mata, kesedihan, kekecewaan, ataupun amarah. Meskipun saya juga tidak memungkiri kalau bahagia dan tawa tak terlepas jika bermain dengan perasaaan.

Namun apa kalian tahu? yang saya alami adalah saya tidak pernah bisa berdiri, bertahan, dan melangkah maju saat saya menggunakan perasaan. Perasaan terus membenamkan saya pada lorong yang paling dalam, gelap dan sepi.