Another Year Closer to Death

“Happy Birthday!” Kata yang biasanya menyenangkan bagi saya ketika tanggal 14 di bulan kedua setiap tahunnya datang menghampiri. Doa, hadiah, serta kejutan diberikan oleh orang-orang terdekat. Jujur, saya menunggunya dan saya menyukai itu. Namun tidak untuk tahun ini. Menginjak usia 23 tahun dengan mengalami banyak jatuh bangun serta merasakan asam-manis kehidupan, justru membuat saya berpikir untuk tidak merayakan ulang tahun. Tidak ada harapan untuk sebuah ucapan, hadiah, sampai kejutan. Tidak ada lagi tiup lilin bahkan harapan pribadi yang selalu disebut dalam hati ketika akan mematikan lilin di kue.

Mungkin pengalaman dan jalan hidup yang membuat pikiran saya berubah. Entahlah, namun kini saya merasa bahwa mungkin pada saat hari kelahiran datang tidak merujuk pada selebrasi, melainkan lebih mengutamakan intropeksi. Intropeksi diri mengenai apa yang sudah saya perbuat selama 23 tahun?. Apakah lebih banyak kebaikan atau justru keburukan? Lalu, bertambahnya usia menandakan saya akan semakin dekat dengan kematian dan selama 23 tahun hidup yang Allah berikan, apa yang sudah saya siapkan ketika maut hendak menjemput saya. Bukankah harusnya itu semua menjadi intropeksi diri agar saya semakin bersyukur dan mengingat bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan. Allah sudah memberikan nikmat hidup yang begitu banyak, dan mengabulkan doa-doa yang terpanjat dengan begitu luar biasa kekuasaan-Nya. terima kasih Allah.

Saya juga berterimakasih untuk keluarga dan kerabat yang sudah menitipkan doanya dalam ucapan yang diberikan hari ini, tetapi maaf, di ulang tahun kali ini dan seterusnya saya sudah tidak lagi merayakannya dengan berhura-hura. Bukan saya sok suci atau terlalu fanatik dengan agama, namun ketika saya berpikir kematian semakin dekat, maka Allah lah yang saya tuju, dan saya berusaha untuk mengikuti perintahnya dan menjauhi larangnya. Termasuk perayaan ulang tahun yang berbentuk keduniawian, menghabisakan waktu ditempat yang mungkin tidak di ridhoi-Nya dan itu juga tidak pernah ada di agama saya.

Harapan saya di tahun ini, semoga Allah senantiasa memautkan kasih sayang-Nya terhadap saya agar saya tetap istiqomah menjalankan kebaikan dari hidayah yang diberikan-Nya dan tak berpaling dari-Nya. Mungkin saat ini saya belum menjadi muslimah sejati, banyak perbuatan yang harus saya perbaiki dan keburukan yang harus tinggali. InshaAllah, tahun ini memantapkan diri saya untuk berhijrah. Saya pun berharap, agar saya selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangi dengan tulus, tak butuh jumlah yang banyak. Sedikit asal tulus seperti Ibu, Umi, Kakak, Mama yang menyayangi saya tanpa mengharap imbalan, yang selalu berkontributif mendukung saya dalam mencapai impian, sekalipun banyak orang diluar sana yang meremehkan dan berkata saya “tidak mampu, dan tidak akan bisa”.

Allah, semoga mereka semua tetap sehat, dan ijinkan Fira untuk membahagiakan mereka dengan cara yang Engkau ridhoi, jaga mereka dan jangan Engkau biarkan penyesalan terbesar dalam hidup Fira atas apa yang pernah terjadi terulang dan menimpa orang-orang yang Fira sayang. Mereka menjadi alasan mengapa sampai saat ini saya tidak pernah menyerah untuk berjuang dan terus melangkah apapun yang terjadi.

Dan teruntukmu, sang Malaikat tak bersayap, Makasih ya Bu untuk semuanya. Ibu teman sejati yang paling menghibur dengan kasih sayang yang tak terukur. Allah sangat baik, menitipkan Fira di sosok terkuat seperti Ibu. Bebanmu mungkin tak akan sanggup anak-anakmu jalani, tetapi anak-anak mu berjanji untuk mengganti beban kepiluan masa lalu mu dengan hal baik yang membuat mu selalu bahagia.

Maaf, Aku Berhenti Mengagumimu!

downloadTeruntukmu yang pernah ku kagumi, Seseorang yang namanya tak pernah luput dalam doa yang kupanjatkan pada-Nya. Seseorang yang hanya sanggup aku kagumi dalam diamku. Seseorang yang selalu ku shalawatkan setiap kali aku mencuri pandangan terhadapmu.  Maaf, kali ini ku putuskan untuk berhenti mengagumimu. Aku tak pernah menyerah sebelumnya, karena aku yakin Allah-ku akan mendengarkan keluh kesahku tentangmu.

Hingga pada akhirnya, aku tersadar bahwa apa yang ku lakukan telah melampaui batas. Tak jarang aku mendahului kehendak-Nya karena besarnya rasa kagumku padamu. Berkali-kali aku kecewa ketika aku terus memupuk rasa kagum pada sesuatu yang tak pasti. Aku pernah mendahulukanmu dari apapun, sampai ku lewatkan Allah yang tak akan pernah meninggalkanku. Aku pernah mengutamakan waktuku untukmu, sampai aku meninggalkan waktu untuk diriku sendiri. Kau pernah menjadi sosok yang paling berharga dalam hidupku, dan menjadi sosok yang ku impikan untuk menjadi imamku kelak.

Aku salah, karena mencintaimu bukan karena Allah. Aku malu pada Allah, untuk semua kekeliruan yang menahun ku lakukan. Perasaan yang pernah ada untukmu, merupakan suatu kebodohan. Lewat kekecewaan yang teramat besar ini, kuputuskan untuk menghentikan kebodohonku. Kini, ku jamin kau tak akan menemukan aku yang kemarin, aku yang menjadikan Tuhan sebagai alat untuk mewujudkan keinginanku bersamamu. Aah… betapa dosanya aku, dan aku menyesal.

Saat ini, kuserahkan semua urusanku pada-Nya, kulapangkan hatiku dan belajar mengikhlaskan segalanya. Aku akan mengikuti ketetapan-Nya, menerima semua rencana-Nya tanpa memaksakan rencanaku. Aku tak khawatir melepas mu yang pernah menjadi sumber dosaku, karena aku yakin Allah-ku akan menggantikanmu dengan yang lebih baik asal aku terus bersabar dan memperbaiki diri menjadi umat yang dicintai-Nya. Ku matangkan hatiku untuk berhijrah, dan maaf kau tak akan lagi kusebut dalam doaku, karena dalam doaku tak akan ku sebut nama yang bukan menjadi kekasih halalku.

Hai Ramadan! Sudikah Kau Menjumpaiku Kembali di Lain Waktu?

ramadan kareem greeting card design with mandalaSaat pintu-pintu langit dibuka, saat keberkahan diberikan tanpa henti, dan saat setiap kebaikan dilipat gandakan oleh Allah SWT. Itulah Ramadan, bulan yang penuh dengan kemuliaan. Di penghujung bulannya, umat muslim senantiasa mengharapkan kemenangan setelah satu bulan penuh berjuang melawan hawa nafsu dunia dan berbondong-bondong berburu kebaikan. Saya pun demikian, mengharapkan sebuah makna dari kemenangan.

Sayangnya, Ramadan tahun ini terasa begitu cepat. Gemuruh takbir yang berkumandang disetiap sudut negeri ini, menampilkan sebuah penyesalan, saat tersadar masih banyak kebaikan yang terlewatkan dibulan ini. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena lalai dan masih mengikuti kesenangan dunia. Sedih justru muncul menjelang hari-hari terakhir Ramadan, padahal di Ramadan sebelumnya rasanya biasa saja, pun ketika Ramadan beranjak pergi.  Hanya betabur rasa suka cita menyambut hari raya Idul Fitri.

Ramadan tahun ini.. mengundang rasa untuk saya berpikir kembali akan makna sesungguhnya. Saya mendapat banyak pelajaran pada bulan suci ini, pelajaran tentang “Keikhlasan, Kesabaran, dan Istiqomah”. Sungguh itu semua membuat saya menjadikannya Ramadan terbaik, dan saya sangat enggan melepas kepergiannya. Satu pertanyaan yang terus terulang, “Apakah saya bisa bertemu Ramadan kembali?” .

Saya tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi mendatang, sekiranya ini menjadi Ramadan terakhir saya, tentulah semakin nyata penyesalan saya karena belum menjalankan dengan sepenuh hati. Namun, jika Ramadan masih sudi menjumpai saya, semoga saya bisa lebih baik ditahun mendatang. Ramadan memang bulan yang sangat indah. Selamat tinggal Ramadan, sampai berjumpa lagi di tahun depan (InshaAllah).

Terakhir, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H untuk seluruh umat muslim di dunia, Taqoballahu Minna Wa Minkum. Mohon maaf lahir dan batin.