KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA (Part III)

Mahasiswa di Universitas Paramadina. Suatu kebanggaan bagi saya, seorang tukang cuci, seorang yang tak mampu, dan seorang yang sering ditiadakan keberadaannya bisa mengenyam pendidikan di universitas ini. Saat saya masuk saya bertekad untuk menjadi mahasiswa terbaik pada kelulusan nanti.

Biaya kuliah memang gratis, tapi ternyata biaya-biaya lainnya sangat mahal, mulai dari buku, praktikum, atau tugas-tugas lainnya. Saya beruntung kenal dan hingga kini bersahabat dengan Ulfa Aulia, dia sama seperti saya, anak beasiswa. Bersamanya, saya kembali berdagang, berkeliling kampus menjajakan makanan kecil dan kue-kue basah. Malu? Tentu saja tidak! Pernah saya melakukan tindakan illegal yang sangat tidak patut untuk di contoh (maafkan kami para akademisi , karena kami dulunya tidak paham dengan tindakan ini)…. Yups…. Kami menjual buku-buku yang tidak asli. Grade Ori si, jadi keliatannya kaya asli .. heheh. Jujur, dari hasil penjualan buku inilah kami meraup untung yang sangat besar. Meskipun kami harus berpanas-panasan siang hari ke Pasar Senen.

IMG_20141107_074615

Zhafira Nadiah dan Ulfa Aulia (Mahasiswa Anti Rugi)

Ulfa Aulia, menjadi patner terbaik saya dikampus. Pernah kami lapar saat menunggu jam kuliah berikutnya, dan kebetulan di kampus ada seminar yang menyediakan makanan berat. Lalu, dengan santainya kami masuk sebagai peserta hanya untuk mendapatkan makanan lalu pergi bahkan sebelum acara dimulai. Pantry Kampus… Pantry ini khusus untuk karyawan sebenarnya, namun karena OB yang baik kami diijikan untuk mengisi air minum di Pantry. So… kami tidak perlu membeli minum diluar. Masa-masa ini sunggu indah untuk dikenang, namun tidak cocok untuk ditiru ya teman.

Oia… selama kuliah saya tidak punya laptop, padahal laptop sudah menjadi kebutuhan mahasiswa. Untungnya dikampus tersedia lab dan perpustakaan yang bisa diakses oleh Mahasiswa, sehingga untuk berhemat kami mengerjakan tugas disana. Sampai pada akhirnya, Allah memberikan saya laptop. Kok bisa?? Tentu saja, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Saya menang kompetisi Instagram! Dan hadiahnya 1 Unit Laptop. Ya Allah, Engkau Maha Baik.

2016….. Keadaan keuangan mulai membaik. Saya sudah bekerja saat itu. Saya berhutang budi dengn Kak Vivin, senior saya di tempat kerja saya pertama (Setelah lulus & pada saat mengisi waktu libur kuliah). Dia yang merekomendasikan saya ditempat tersebut. Playfield Kid’s Academy, tempat pertama saya bekerja sesuai dengan ilmu perkuliahan saya. Tempat tersebut menjadi ajang saya untuk belajar dan mempraktikan langsug ilmu yang saya dapatkan. Terlebih karena memang saat itu baru dibuka, jadi saya bisa berekspreiment dengan ilmu PR. Terlebih di Paramdina banyak dosen-dosen keceeeeh yang selalu terbuka untuk berdiskusi meskipun diluar jam perkuliahan, jadi semakin banyak hal yang bisa terapkan di Playfield.

Kuliah sambil bekerja sangat melelahkan, IP saya pun sempat turun. Lalu disemester 7 teman-teman sudah banyak yang mulai mengerjakan skripsi. Ah rasanya saat itu saya sangat malas karena pekerjaan di Playfield cukup menguras waktu saya. Hingga pada akhirnya saya kembali pada tujuan saya. Saya harus lulus lebih cepat, saya harus bisa mengejar teman-teman saya yang sudah menyusun skripsi. Lagi-lagi campur tangan Allah sangat terlihat jelas, Allah mempermudah perjalanan saya menyususn skripsi. Dan saya bisa lulus sesuai dengan keinginan dan target saya, 3,5 tahun dengan predikat kelulusan Magna Cumlaud. Allahuakbar…. Ini sangat membahagiakan, Saya berhasil menjadi sarjana. Impian Ibu, impian Umi, Impian Ayah, dan impian saya sendiri berhasil terwujud. Sungguh saat kelulusan menjadi moment terbaik dalam hidup saya. Usaha saya yang hanya tidur 3-4 jam perhari karena baru bisa mengerjakan skripsi selepas pulang kerja membuahkan hasil.

IMG_20170308_122420

Moment Kelulusan Zhafira Nadiah

Wisuda Paramadina. Pagi itu senyum terpancar dari raut dua orang yang paling saya sayangi, Ibu dan Nenek (Umi). Mereka sangat antusias datang ke wisuda saya. Ibu dan Umi, memakai pakaian terbaiknya pada saat saya wisuda, tak henti-hentinya saya melihat aura kebahagiaan yang luar biasa dari mereka. Dalam hati saya ucapakan “Ibu, Ayah, Umi, semoga kalian bangga dengan ini, karena semua perjuangan ini untuk kalian, orang-orang terhebat dalam hidup saya”.

IMG_20170422_141654.jpg

Wisuda Zhafira Nadiah dan Ayah

IMG_20170422_114738.jpg

Wisuda Zhafira Nadiah dan Ibu

Apalagi yang membahagiakan? Pengumuman pada saat wisuda. Jujur, saat itu saya harus melawan rasa haru yang ingin menitikan air mata pada saat MC Wisuda mengumumkan bahwa saya merupakan wisudawan terbaik Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina dengan predikat kelulusan Magna Cumlaude (satu tingkat diatas predikat cumlaude). Saya terharu karena saat itu saya seperti ditampilkan bagaimana usaha-usaha saya sebelumnya, dari mulai awal ingin sekali bisa kuliah sampai bisa lulus. (Video Pengumumannya Graduation Day Universitas Paramadina )

“Usaha tidak akan pernah mengkhiati hasil”, inikah bukti dari apa yang pernah saya baca saat itu? Ya… saya percaya sejatinya memang benar, bahwa hasil akan berjalan sesuai dengan usaha yang dilakukan. Itulah kisah yang tak akan pernah bisa saya lupakan, dan selalu tekenang. Allah sangat baik, Dia selalu ada dan tak pernah meninggalkan saya, meskipun seringkali saya yang meninggalkan-Nya. Anak kampung itu berhasil menjadi sarjana. Sekarang saya memiliki kehidupan yang sangat lebih baik dari apa yang pernah saya alami. Jangan pernah putus asa, jangan pernah menyerah, karena semua pasti ada jalannya.

Tulisan saya saat ini, saya buat untuk bisa mengingatkan saya akan usaha keras yang membuahkan hasil dan inipun akan terus memotivasi saya untuk melangkah kedepannya. Doakan ya teman, semoga saya bisa kembali melajutkan kuliah ke jenjang Master, dan tentunya gratis. Hehe karna kalau bayar biayanya mahal . Semoga… saya bisa kuliah lagi segera. AamiinYra. Terima kasih teman, sudah bersedia membaca tulisan saya yang mungkin membosankan dan monoton. Semoga bermanfaat untuk sisi positifnya, dan mohon maaf bila ada tulisan yang tidak berkenan.

“KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA” (PART II)

Terdaftar sebagai siswa kelas Internasional (pada jamannya) tidak mudah, mereka tentu jauh lebih pintar dari pada saya. Tapi percayalah, dari mereka, dari perlakuan buruk seorang guru, dan dari guru matematika yang sangat objektif, mereka justru menjadi motivasi saya untuk maju. Saya yang amat sangat tidak diperhitungkan bisa membuktikan dengan memberikan nilai rata-rata 9 di hari kelulusan pada saat itu. Kelulusan SMA dengan nilai yang bagus adalah cara saya membuat orang-orang yang saya sayang bangga. Senang rasanya bisa mewujudkan tujuan saya sebelum masuk SMA, yakni “I want to make people around me, proud of me”. And I did it…

Sebelum lulus SMA saya mulai mencari informasi perkuliahan. Dulu ada yayasan yang ingin membantu meringankan biaya kuliah saya jika saya berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Saya gagal di SNMPTN hingga saya memutuskan ikut tes seleksi PTN jalur lainnya. Disisi lain, saya juga mulai meng-apply beasiswa di Universitas Paramadina (Full Scholarship). Dan melakukan semua tahapan tersebut sendiri tanpa didampingi siapapun, persis saat saya mendaftar SMA dulu. Saat mereka diantarkan keluarganya dari mulai tahap pendaftaran, tes fisik, tes tertulis, interview, dan lulus tes, saya mengurusinya sendiri, dan berbagi kebahagiaan kelulusan seleksi dengan Ibu melalui telepon.

Oya… pada saat mendaftar beasiswa Universitas Paramadina, ada dua essay yang harus saya buat, dan salah satu essaynya adalah judul tulisan ini “Ketika Aku Berbeda Dengan Mereka”, melalui essay tersebut saya tuliskan bagaiman saya berbeda dengan teman-teman saya pada saat SMA. Sunggu ini essay yang  sangat bagus untuk mengeksplor apa yang saya rasakan.

“Saya harus berhasil, saya harus jadi orang, saya ngga mau anak saya nanti merasakan apa yang saya rasakan, saya harus membuat mereka bangga, saya tidak boleh gagal, saya ingin merubah apa yang mereka pikirkan terhadap saya bahwa nasib anak tidak akan jauh dari Ibunya, saya ingin merubah itu”.

Itulah kalimat yang terus saya ulang dalam pikiran saya. Yang mendorong saya untuk berlari, karena dengan berjalan saja tidak akan mampu membuat saya mengejar mimpi yang terlalu jauh dengan kata “MUNGKIN”. Lagi-lagi saya merasakan Allah menggenggam erat menuntun saya ke sebuah cahaya. Cahaya yang bertuliskan “kesempatan”. Terima kasih Allah. Saya diterima di sebuah perguruan TInggi Negeri di Depok, namun dengan jurusan yang bukan passion saya. Angin baik kembali menyapu raut wajah bahagia saya dengan tertulisnya nama saya di website Paramadina yang menyebutkan bahwa saya  lolos  di jurusan yang saya inginkan dan bisa kuliah gratis sampai dengan lulus* (*Syarat dan ketentuan IP minimum tetap berlaku yaaa).

Allah.. saya bahagia tapi saya bingung harus pilih yang mana. Hingga pada akhirnya kalian tentu tahu, ya saya memilih Paramadina, dan meninggalkan kesempatan menjadi siswa PTN favorit. Saat itu saya yakin kerena ada beberapa faktor pertimbangan yang lebih membuat saya condong memilh paramadina yakini:

  1. Jaraknya dekat, jadi meskipun saya tidak punya ongkos, saya tetap bisa kuliah dan terbukti, saya pernah sama sekali tidak pegang uang, namun masih tetap datang ke perkuliahan.
  2. Beasiswa ini full sampai lulus, kalau di PTN meskipun ada bantuan dari yayasan tentunya saya harus berpikir untuk bisa membayar sisa uang kuliah nantinya.
  3. Saya bisa menempuh pendidikan sesuai dengan passion saya dan jurusan yang sudah lama saya idam-idamkan.

Ya, setidaknya 3 faktor itu meyakinkan saya, untuk memilihnya.

“KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA” (Part I)

2013 …. Saat niat dan usaha saya berjalan seiringan, impian yang tak mungkin menjadi mungkin. Mungkin mimpi saya terlihat biasa saja bagi sebagian orang yang mampu secara materil. Tetapi kala itu, sungguh keinginan untuk bisa mengenyam pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi adalah suatu yang sangat tidak mungkin, dengan kondisi saya yang tidak mampu. Kala itu, banyak yang mentertawakan mimpi saya, dan yakin saya akan gagal.

………………………………….The stories…………………………………….

Ayah sudah lama meninggal sejak saya masih di usia 1 tahun. Saat Ayah pergi, Nenek tinggal bersama dengan Ibu, Saya dan Kakak saya. Tidak hanya nenek saja, namun di rumah peninggalan Ayah, semua anak-anak nenek ikut tinggal bersama kami. Kondisinya begitu baik, saat saya kehilangan Ayah, namun berbagai sosok terbaik mengeliling saya dan menyangi saya dengan sepenuh hati. Ibu, Nenek, Tante, semuanya bekerja.

Dan semua berjalan sangat baik sampai…………. Ibu di PHK dari pekerjaannya, Nenek sudah mulai sakit-sakitan dan Tante saya menikah lalu memiliki keluarganya sendiri. Keadaan membuat Ibu harus bekerja diluar kota, demi keuangan yang lebih baik. Lalu saya dan kakak tinggal bersama nenek. Nenek mengurusi kami.

Kondisi belum membaik, dan di SMA saya dan kakak saya mulai belajar membiayai semuanya sendiri. Semua keperluan pribadi dan sekolah harus bisa kami penuhi karena kami tahu hasil yang Ibu dapatkan di kota orang, hanya bisa untuk makan sehari-hari, dan tak jarang Nenek harus berdagang untuk melengkapi kekurangan dari keperluan dapur.

Dana sekolah yang dulu pernah ibu simpah untuk pendidikan kami terkuras sedikit demi sedikit hingga akhirnya tak bersisa. Saya tak akan pernah putus sekolah, yang saya tekankan apapun keadaannya saat itu saya harus bisa lulus dan tetap membanggakan orang-orang yang saya sayangi. Allah pun tak pernah tidur, saya tahu Allah selalu menolong umat-Nya. Allah menolong saya lewat belas kasih dari donatur yang dermawan terhadap anak yatim.

191245_200663066619047_6454555_o

Zhafira Nadiah SMA

Di usia 15 tahun (1 SMA) saya pun mulai berjualan jajanan warung dan pulsa yang saya jajakan di kelas dan berkeliling ke kelas-kelas lainnya pada saat jam istirahat. Yang paling saya ingat saat itu adalah ketika saya membawa dagangan dengan naik metro mini. Suasana pagi yang diisi banyak anak sekolah ke arah yang sama selalu menarik perhatian mereka dengan kondisi saya yang membawa dagangan. Mungkin mereka berpikir “Ini orang mau sekolah atau mau ngapain yaaa”…  Saya menjalani dan saya tidak pernah malu.

Suatu hari di bangku 2 SMA, saya mendapat sepeda bekas om Saya. Saat itu saya sangat senang, karena untuk pergi ke sekolah saya bisa menghemat ongkos. Saya mulai ke sekolah naik sepeda. Jarak dari Tegal Parang ke Pasar Minggu dan sebaliknya tak dirasakan lagi, karena bagi saya justru ini moment yang sangat bagus karena penghematan sekaligus olahraga. Ada satu moment dimana saya pulang dengan sepeda dan saya melihat teman-teman saya naik mikrolet 42 ke arah pulang. Saat itu saya membalap mikrolet tersebut dan membuktikan bahwa saya bisa lebih cepat dengan bersepeda dibandingkan naik mikrolet (angkot ini jalannya lama).

Saya sudah mulai berbeda dengan teman-teman saya yang mungkin kehidupannya jauh lebih baik daripada saya. Pernah sakit hati dengan kondisi ini, karena ada satu guru yang secara tidak langsung menghina kondisi saya yagn berbeda dengan mereka. Sakiiiiitttttt bangettt perlakuannnya terhadap saya, yang membuat sampai saat ini saya ingat dengan jelas kejadiannya, but it’s okay, saya sudah memaafkannya.

Teman…. Layaknya tempat sosial lainnya, disekolah ada yang baik dan ada juga yang kurang baik. Dan teman… saya ingin berterima kasih ke teman sepermainan saya dilingkungan rumah. Dia tahu kondisi saya, dan saat itu dia memberikan saya pekerjaan sebagai tukang cuci pribadinya. Bayaran yang didapat saat itu lumayan, bisa menambah uang jajan dan uang tugas. Cuci gosok pakainan teman saya terlihat ringan karena saya lakukan dibarengi dengan saya mencuci pakaian saya sendiri.

Single? Siapa Takut!

Being IMG_20170831_064035_335single isn’t a bad thing. Banyak hal yang dapat kamu lakukan ketika kamu single. Begitupun dengan yang saya alami sampai detik ini saya menjalani hidup tanpa pasangan, semua terasa lebih membahagiakan dan lebih menakjubkan. So guys, i’d like to share you about being single, and these are the reason why you should be happy you are single:

  1. FREEDOM! Hal utama yang paling membahagiakan ketika kamu single adalah kamu dapat bebas melakukan hal yang kamu suka tanpa mengimbangi perasaaan pasanganmu. Kamu juga akan bebas jalan kemanapun kamu mau dan tentunya dengan siapapun. Bayangkan! bagaimana seringkali tersiksanya orang yang sudah berpasangan karena kehidupan mereka terlalu diatur oleh pasangan mereka dan mereka juga harus sering berkompromi ataupun mengalah dengan pasangan. Sangat menyedihkan! Terlebih di usia yang masih muda adalah usia emas untuk mengeksplore segalanya, baik dari pertemanan, kehidupan, jalan-jalan, organisasi, ataupun hal-hal lainnya yang hanya bisa dinikmati selagi kamu masih muda. Sayang sekali rasanya jika itu semua harus terenggut hanya karena kamu dikekang oleh pasanganmu sendiri.
  2. Saving money. Pacaran adalah kondisi dimana kamu harus mengeluarkan uang pribadimu atau bahkan uang orang tuamu agar membuat pasangannya senang, setidaknya kalau kamu pacaran di warung bakso pun kamu pasti akan mengeluarkan uang.  Tidak perlu memikirkan hadiah untuk pacar ketika ulang tahun, karena biasanya kamu akan membelikan sesuatu hal yang sangat spesial yang belum tentu kamu akan berikan ke orang tua, adik, ataupun kakak kamu. Hmm uang jajan 100.000 dan kamu harus rela menabung untuk membelikan pasanganmu hadiah yang harganya 1.000.000. Duh.. Apa gasayang uangnya? Andai saja kamu belikan hadiah untuk ibumu seharga kamu membelikan untuk pacarmu, pasti ibu mu akan lebih senang dan makin sayang sama kamu. Apalagi kalau uangnya ditabung untuk jalan-jalan ataupun beli barang yang kamu suka. Percaya deh, itu akan lebih bermanfaat. Beliin hadiah pacar 1.000.000 terus abis itu putus, duuuh sayang uangnya!
  3. Build Deeper Connection With People. “Cin, main yuk kesini”, “Aduh nggak deh gue udah ada janji mau jalan sama cowok gue”. Siapa hayooo yang sering digituin sama temennya pas mau ngajakin jalan? Ya sebagian dari kalian pasti pernah ngalamin hal tersebut. Case ini gajauh beda sih sama Freedom, tapi yang sudah saya alami pacaran itu justru nutup pintu pertemanan. Ya memang gasemuanya mengalami seperti saya, but most couple at this time do it. hiks , but don’t be sad! karena ketika kamu single itu adalah saat-saat emas untuk kamu lebih banyak menjalin pertemanan. Kamu bisa berteman dengan siapapun dan jalan sama mereka. Saya pun sampai sekarang tidak pernah merasa khawatir tidak memiliki pasangan, karena saya justru lebih banyak melakukan hal-hal gila yang tidak pernah bisa saya lakukan ketika saya punya pasangan. Memiliki banyak teman yang beragam. Hal yang paling saya rasakan perbedaan ketika berpasangan dan single adalah, saat memiliki pasangan dan kita ada masalah pasti kita akan bercerita ke pasangan kita dan dengan senang/kurang senangnya mereka akan memberikan nasihat atau solusi kepada kita, itu memang baik dan sangat wajar dilakukan oleh pasangan. But did you realize that you only get an advise or solutions from one person. Biasanya kamu akan sangat mendengarkan masukan dari pasanganmu tapi bagaimana kalau masukan itu kurang baik atau bahkan memang tidak baik? Berbeda ketika kamu memiliki banyak teman dekat ataupun sahabat, kamu bisa meminta masukan dari mereka dan pastinya karena berbeda orang pasti masukan dan solusi yang diberikan pun juga berbeda-beda. So… pikiran kamu akan lebih terbuka dan kamu pun bisa lebih menyaring serta menentukan mana yang terbaik. Selain itu, menjalin hubungan dengan banyak orang juga akan memberikan keuntungan untuk kamu. Setiap orang punya keunikan masing-masing dan ketika kamu berteman dengan mereka ada saja pengalamna-pengalaman yang bisa kamu ambil dan bermanfaat bagi kamu. Pas kamu sedih juga, kamu tidak hanya dihibur oleh satu orang, tapi ada banyak orang yang akan menghibur kamu, dan kamu juga akan lebih pintar karena kamu akan lebih banyak sharing dengan orang-orang hebat yang berkeliaran diluar sana. So wake up guys! you’re so lucky to be single!
  4. Get Happier. Hello mblo… i mean hello single people! Are feeling happy and much better? Kalau saya sih iya. Sangat bahagia! Happiness is a choice and i choose to be happy. Kebahagiaan itu tidak terbentuk hanya karena kamu memiliki pasangan, tapi kamu justru bisa lebih bahagia tanpa pasangan. Eskpresikan dirimu dan buang mindset kamu yang sangat terpuruk ketika tidak memiliki pasangan. Diluar sana banyak loh yang justru menderita karena punya pasangan dan sangat iri dengan posisi kita sebagai single people. You can create your own happiness by doing a lot of things. Mulai dari bekerja atau sekolah yang lebih produktif, menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri dan keluarga, serta makin banyak membuka peluang kamu untuk maju jadinya.

Intinya, banyak banget keberuntungan dan kebahagiaan yang bisa kita ambil selama kita single! Kamu gaperlu malu apalagi minder ketika kamu belum punya pasangan. Justru inilah saat dimana kita bisa menunjukan kebanyak orang kalau single itu tidak selalu rendah, single itu tidak selalu bisa dipojokan. Kita single bukan karena kita tidak laku tetapi karena kita terlalu berkualitas dan selektif. Untuk apa kita memiliki status yang hanya membuat kita terus-terusan terpenjara. Jadi para single, kita harus buktikan kalau kita ini Single berkualitas. And Guys! Kalau memang sudah waktunya, kita akan mendapatkan seseorang yang baik dari yang terbaik dan nantinya akan datang diwaktu yang tepat disaat Tuhan udah takdirin kita untuk tidak menjadi Single karena Tuhan melihat Single people seperti kita berhak untuk mendapatkan yang sepantasnya. So.. just have fun with you own life right now!

Jangan Tunggu Sukses Untuk Memotivasi Orang Lain

Sukses merupakan hal yng pasti diinginkan oleh setiap orang. Banyak hal seseorang dikatakan sukses, mulai dari memiliki kondisi keuangan yang mapan, kehidupan yang lebih, pekerjaan dengan salary yang tinggi, mencapai tujuan-tujuan hidup, serta mendapatkan pengakuan status sosial yang tinggi di masyarakat. Kebanyakan sua sukses diatur oleh materi, materi, dan materi. Karena memang pada dasarnya tidak ada orang yang bercita-cita hidup kekurangan.

Lalu apa yang biasanya dilakukan setelah orang menjadi sukses? Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan dan dambakan yang menjadi tujuan khusus mereka sebelum mencapai sukses. Cita-cita mereka mungkin sudah terwujud ketika mereka menjadi sukses, dan bahkan sebagian dari mereka yang berhasil meraih sukses dari tingkat nol, dijadikan inspirasi oleh orang-orang sekitar mereka dan masyarakat. Tidak jarang ditemu seminar- seminar inspiratif dan motivasional mengambil para orang-orang yang sukses dari nol tersebut untuk menjadi seorang motivator. Tidak ada motivator yang di undang dari orang yang belum sukses.

Namun, hal berbeda saya temui dari orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Seorang penyemangat yang terus berkontribusi untuk mendorong saya menjadi sukses. Beliau sendiri bukan orang yang sudah sukses, hanya pekerja kantoran biasa yang saya masih berusaha untuk mencapai suksesnya. Beliau pernah mengatakan bahwa seorang motivator tidak harus menjadi sukses dulu baru bisa menjadi motivator.

Seperti yang dilakukannya, beliau selalu memotivasi orang lain terutama saya, melalui pengalaman-pengalaman kegagalan yang dialaminya, hal-hal yang bisa mencapai sukses yang sejalan dengan nilai-nilai agama yang ada. Saat paling terpuruk yang pernah saya alami, saya bisa keluar dan bebas dari kondisi tersebut dengan proses yang bertahap dan berjalan sangat clear berkat bantuannya yang memacu saya untuk bangkit dan jangan melakukan hal-hal yang pernah dilakukan yang bisa membuat terpuruk semakin lama.

Memiliki basic seorang guru, saya banyak belajar. Dan memang benar bahwa seorang motivator tidak selalu berasal dari orang unag sudah sukses untuk bisa memotivasi orang lain. Untuk itu, saya pun melakukan hal yang sama, yakni memotovasi orang lain dan memberikan energi positif meskipun saat ini saya sendiri belum bisa dikatakan sukses. Perjalanan masih panjang, dengan terus bebenah, saya yakin beliau akan sukses, begitupun dengan saya.