Dia, Apa Kabarnya ?

545bb90e38f40ff6cc4be2c42f790bc3Malu, melekat pada diri yang enggan menyapa terlebih dahulu. Katanya, emansipasi wanita, sudah wajar jika perempuan bertindak agresif, namun nyatanya agama-ku tidak setuju untuk hal itu. Perempuan tetap harus memiliki nilai dan tidak mudah diobral. Islam sangat memuliakan perempuan, maka tak sepantasnya perempuan merendahkan dirinya sendiri. Mencinta bukan berarti harus menjadi buta, mengejar sesuatu yang tak pasti dengan nampak jelas bukanlah ciri muslimah.

Doa.. itulah sebenarnya yang harus dilakukan ketika hati merindu dan ingin menyapa namun enggan berkata. Ah perasaan itu…. Biarlah Allah saja yang mengaturnya, aku akan menjadi anak baik yang manut pada apa yang diperintahkan-Nya. Semoga iman ini tidak kalah dengan hawa nafsu dunia yang membuat semua nampak indah namun dimurka.

Teruntukmu, aku ada disini, antara menunggumu dan menunggu takdir yang Allah pilihkan. Setidaknya mengetahui kabar baik tentangmu saja sudah cukup untuk saat ini. Selebihnya, Aku tuangkan perasaanku pada yang menciptakan-Mu, Dia yang lebih mengetahui segalanya tentangmu, bahkan isi hati terkecilmu yang mungkin tak tertulis namaku. Jika kamu baik, untukku, agamaku, dan kehidupanku, maka apapun jalannya pasti Allah mudahkan. Namun sebaliknya, jika bersamamu justru membuatku menjauh dari-Nya maka aku yakin Dia akan tanamkan rasa ikhlas untuk melepasmu tanpa rasa sakit sedikitpun.

Aku libatkan Allah untuk urusanku, karena aku yakin, pilihan-Nya tidak akan pernah salah dan selalu menjadi yang terbaik.

Another Year Closer to Death

“Happy Birthday!” Kata yang biasanya menyenangkan bagi saya ketika tanggal 14 di bulan kedua setiap tahunnya datang menghampiri. Doa, hadiah, serta kejutan diberikan oleh orang-orang terdekat. Jujur, saya menunggunya dan saya menyukai itu. Namun tidak untuk tahun ini. Menginjak usia 23 tahun dengan mengalami banyak jatuh bangun serta merasakan asam-manis kehidupan, justru membuat saya berpikir untuk tidak merayakan ulang tahun. Tidak ada harapan untuk sebuah ucapan, hadiah, sampai kejutan. Tidak ada lagi tiup lilin bahkan harapan pribadi yang selalu disebut dalam hati ketika akan mematikan lilin di kue.

Mungkin pengalaman dan jalan hidup yang membuat pikiran saya berubah. Entahlah, namun kini saya merasa bahwa mungkin pada saat hari kelahiran datang tidak merujuk pada selebrasi, melainkan lebih mengutamakan intropeksi. Intropeksi diri mengenai apa yang sudah saya perbuat selama 23 tahun?. Apakah lebih banyak kebaikan atau justru keburukan? Lalu, bertambahnya usia menandakan saya akan semakin dekat dengan kematian dan selama 23 tahun hidup yang Allah berikan, apa yang sudah saya siapkan ketika maut hendak menjemput saya. Bukankah harusnya itu semua menjadi intropeksi diri agar saya semakin bersyukur dan mengingat bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan. Allah sudah memberikan nikmat hidup yang begitu banyak, dan mengabulkan doa-doa yang terpanjat dengan begitu luar biasa kekuasaan-Nya. terima kasih Allah.

Saya juga berterimakasih untuk keluarga dan kerabat yang sudah menitipkan doanya dalam ucapan yang diberikan hari ini, tetapi maaf, di ulang tahun kali ini dan seterusnya saya sudah tidak lagi merayakannya dengan berhura-hura. Bukan saya sok suci atau terlalu fanatik dengan agama, namun ketika saya berpikir kematian semakin dekat, maka Allah lah yang saya tuju, dan saya berusaha untuk mengikuti perintahnya dan menjauhi larangnya. Termasuk perayaan ulang tahun yang berbentuk keduniawian, menghabisakan waktu ditempat yang mungkin tidak di ridhoi-Nya dan itu juga tidak pernah ada di agama saya.

Harapan saya di tahun ini, semoga Allah senantiasa memautkan kasih sayang-Nya terhadap saya agar saya tetap istiqomah menjalankan kebaikan dari hidayah yang diberikan-Nya dan tak berpaling dari-Nya. Mungkin saat ini saya belum menjadi muslimah sejati, banyak perbuatan yang harus saya perbaiki dan keburukan yang harus tinggali. InshaAllah, tahun ini memantapkan diri saya untuk berhijrah. Saya pun berharap, agar saya selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangi dengan tulus, tak butuh jumlah yang banyak. Sedikit asal tulus seperti Ibu, Umi, Kakak, Mama yang menyayangi saya tanpa mengharap imbalan, yang selalu berkontributif mendukung saya dalam mencapai impian, sekalipun banyak orang diluar sana yang meremehkan dan berkata saya “tidak mampu, dan tidak akan bisa”.

Allah, semoga mereka semua tetap sehat, dan ijinkan Fira untuk membahagiakan mereka dengan cara yang Engkau ridhoi, jaga mereka dan jangan Engkau biarkan penyesalan terbesar dalam hidup Fira atas apa yang pernah terjadi terulang dan menimpa orang-orang yang Fira sayang. Mereka menjadi alasan mengapa sampai saat ini saya tidak pernah menyerah untuk berjuang dan terus melangkah apapun yang terjadi.

Dan teruntukmu, sang Malaikat tak bersayap, Makasih ya Bu untuk semuanya. Ibu teman sejati yang paling menghibur dengan kasih sayang yang tak terukur. Allah sangat baik, menitipkan Fira di sosok terkuat seperti Ibu. Bebanmu mungkin tak akan sanggup anak-anakmu jalani, tetapi anak-anak mu berjanji untuk mengganti beban kepiluan masa lalu mu dengan hal baik yang membuat mu selalu bahagia.

GOD ANSWERS IN 3 WAYS!

god answer

This is one of my favorite quotes. Terkadang kita sering berada pada titik dimana kita berucap “kok Allah gak denger doa gue ya?”, “Kok udah berjuang mati-matian tapi gak sesuai harapan”, “Kok gini”, “Kok gitu”, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang menjustifikasi kalau Allah gak sayang sama kita karena Dia memberikan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Jujur, kutipan ini memang benar, dan pas banget untuk diterapkan dalam kehidupan. Bagaimana cara Allah menjawab ya dengan 3 hal itu. Kutipan tersebut juga gajauh beda sama ayat favorit saya, yakni surah Al-Baqarah ayat 216 (2:216) yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Sadar gak si kalo kita sebagai manusia, gak ada yang tahu rencana indah apa yang sedang Allah rancang untuk kita. Kita gapernah tahu, kalau doa yang kita panjatkan atau usaha keras yang kita lakuin nantinya akan berujung buruk untuk diri kita, oleh karena itu, Allah sengaja gak kabulin doa tersebut, atau Allah sebenarnya akan mengabulkan doa-doa tersebut, hanya saja Dia meminta kita untuk belajar sabar, karena doanya akan terkabul di waktu yang tepat dan dengan cara yang indah. Sabar pun akan mengajak kita pada kedamaian dan ketenangan hati, karena kita tidak merasa ada satu hal yang mengganjal. Saat itu pula Allah ingin melihat seberapa besar kesungguhan kita untuk mencapai doa tersebut.

Baik, disini mungkin saya akan kasih contoh konkritnya. Pertama, ketika Allah tidak mendengar doa saya and I thank God that He didn’t answer some of my prayers, because sometimes what I thought was the best for me wasn’t the best at all. Mulai dari masalah pernikahan (maaf bukan berarti flashback, ini hanya sebagai pelajaran). Saat saya meminta Allah untuk jodohkan Dia dengan saya, tentu Allah mengatakan tidak. Perih? Ya mungkin saat itu, namun endingnya saya bahagia, sangat bahagia. Ternyata dari apa yang Allah katakan tidak, membuahkan hikmah yang luar biasa. Saya justru bersyukur tidak jadi menikah pada saat itu, karena nyatanya jika saya menikah … hmmmm…. Hubungan dengan ibu, Pendidikan, karir, serta kehidupan saya mungkin tidak akan pernah sebaik ini. (btw I have moved on, and clearly, I’m not philophobic anymore) His plan’s always the best.

He say wait and gives you the best. Cari pekerjaan dijaman sekarang susah bukan? Ya itu yang 2 tahun lalu saya rasakan. Memang, pada dasarnya saat itu saya sudah bekerja dan bahkan sudah punya posisi yang bisa dikatakan lumayan. Namun beberapa faktor membuat saya merasa harus segera pindah. Setiap malam mencoba apply melalui website lowongan kerja, dan hasilnya tidak ada. Sampai saya menghubungi teman saya yang bekerja sebagai CS untuk dapat bekerja disana, padahal jika diliat dari benefit yang didapatkan sangat jauh dari apa yang sudah saya capai. Sempat bertanya, “kenapa sih kok Allah gak dengerin doa Fira, fira kan mau pindah kerja, Allah pasti tahu alesannya”, dan keraguan pun muncul untuk mengambil pekerjaan CS tersebut karena bekerjanya di bank. Akhirnya saya hanya bersabar dan terus berusaha untuk mencari pekerjaan, sampai suatu hari saya diinterview oleh perusahaan yang letaknya sangat dekat dengan rumah saya. Masih ragu saat itu, karena saya baru pertama kali mungkin terjun di industri tersebut. Saya pun interview dan mengikuti testnya. Hampir sebulan kemudian keputusannya keluar kalau saya diterima. Alhamdulillah… sangat senang saat itu, karena saya bisa pindah bekerja, dan ternyata setelah saya bergabung dengan perusahaan ini, saya bersyukur karena lingkungan yang begitu nyaman dan dapat bekerja secara professional. Indah sekali cara Allah menjawab doa saya ini.

Terakhir, He Says Yes and give you what you want. Hmm.. sepertinya untuk yang satu ini sudah banyak terkabul. Wkwk . I am truly blessed! God has definitely blessed me with more than I deserve! I’m so thankful for all He has done and given. Rencananya sangat sempurna. Cara Allah menjawab ya ini, 3 hal : Ya, Tidak, Tunggu. Pahami, nikmati dan terima apapun kehendak-Nya dengan lapang dada. Terlebih, Kata-Nya, kita harus bersyukur, maka Dia akan menambah nikmat-Nya (Ibrahim:7). Jadi apapun, jawaban Allah terhadap doa-doamu teruslah minta dan bersyukur untuk apapun hasil dari doa yang Allah berikan.

Goodbye December, Hello January!

zhafira nadiahTime never stops for anyone. Dia akan terus berjalan sampai akhirnya berhenti ketika sudah saatnya berhenti (re:hari akhir). Desember menutup 2018 dengan sangat manis, and I welcomed January 2019. Sedih? Ya mungkin, bagi saya 2018 menjadi tahun terbaik! Proses pendewasaan, pencapaian target, dan lainnya menjadi satu. Saya pun menjuluki 2018 sebagai tahun “Belajar”. Saya belajar menghargai setiap waktu yang saya miliki, belajar melepas kekecewaan dari tikaman sahabat, belajar melupakan rasa perih, belajar menerima apapun keadaan yang Allah berikan, belajar untuk bersabar meski lelah, dan belajar mengkepalai sebuah club jomblo (just kidding wkwk). Sungguh luar biasa rasanya, dan semua hal tersebut semakin membentuk saya untuk berpikir dewasa.

Rasa syukur dan terima kasih saya yang teramat besar kepada-Nya, membuat saya tidak berpikir untuk menutup akhir tahun dengan berhura-hura. Tidak ada kembang api, tidak ada terompet, tidak ada makan malam besar bersama. Saya memilih untuk mengintropeksi kesalahan dan apa yang harus saya perbaiki. Lagi pula, pergantian tahun menandakan bahwa jatah hidup yang Allah berikan semakin berkurang. Jadi, untuk apa saya merayakannya ?!. Tepat pukul 00.00 WIB dihari selasa kemarin, 2019 datang. Harapan baru pada setiap impian lama ataupun baru menjadi list untuk diwujudkan. Satu hal yang pasti, saya rindu pendidikan! Rasanya sudah cukup beristirahat dengan buku-buku ilmiah, berdiskusi dengan pakar ilmu, dan dibuat pusing oleh tugas-tugas yang bisa mempersingkat waktu tidur saya. InshaAllah tujuan utama bisa terwujud, melanjutkan S2.

Tetapi, berbicara tentang pendidikan, mungkin saya juga harus meminta maaf kepada para akademisi yang telah mendidik saya sebelumnya untuk side job yang saya lakukan dan mungkin menyalahi aturan integritas, meskipun menurut saya tidak ada pihak yang dirugikan, karena niat awalnya hanya membantu dan menjadi simbiosis mutualisme antara saya dan para mahasiswa yang saya bantu. Maaf  ya Bapak, Ibu, mungkin karena saya belum terkena pencerahan lagi. But sooner or later pasti akan saya akhiri.

Lalu, keyakinan saya di 2019 banyak rencana yang akan Dia dengar dan Dia izinkan terjadi untuk saya. Allah, semoga ini tidak berakhir dengan kekecewaan, karena pengharapan ini hanya kepada-Mu. Aamiin… Setidaknya, kejutan pertama sudah tiba, dan saya bahagia J . Terima kasih Allah. Oiya, ada hal lainnya yang ingin saya bagi, di post berikutnya.. Stay tuned!

Maaf, Aku Berhenti Mengagumimu!

downloadTeruntukmu yang pernah ku kagumi, Seseorang yang namanya tak pernah luput dalam doa yang kupanjatkan pada-Nya. Seseorang yang hanya sanggup aku kagumi dalam diamku. Seseorang yang selalu ku shalawatkan setiap kali aku mencuri pandangan terhadapmu.  Maaf, kali ini ku putuskan untuk berhenti mengagumimu. Aku tak pernah menyerah sebelumnya, karena aku yakin Allah-ku akan mendengarkan keluh kesahku tentangmu.

Hingga pada akhirnya, aku tersadar bahwa apa yang ku lakukan telah melampaui batas. Tak jarang aku mendahului kehendak-Nya karena besarnya rasa kagumku padamu. Berkali-kali aku kecewa ketika aku terus memupuk rasa kagum pada sesuatu yang tak pasti. Aku pernah mendahulukanmu dari apapun, sampai ku lewatkan Allah yang tak akan pernah meninggalkanku. Aku pernah mengutamakan waktuku untukmu, sampai aku meninggalkan waktu untuk diriku sendiri. Kau pernah menjadi sosok yang paling berharga dalam hidupku, dan menjadi sosok yang ku impikan untuk menjadi imamku kelak.

Aku salah, karena mencintaimu bukan karena Allah. Aku malu pada Allah, untuk semua kekeliruan yang menahun ku lakukan. Perasaan yang pernah ada untukmu, merupakan suatu kebodohan. Lewat kekecewaan yang teramat besar ini, kuputuskan untuk menghentikan kebodohonku. Kini, ku jamin kau tak akan menemukan aku yang kemarin, aku yang menjadikan Tuhan sebagai alat untuk mewujudkan keinginanku bersamamu. Aah… betapa dosanya aku, dan aku menyesal.

Saat ini, kuserahkan semua urusanku pada-Nya, kulapangkan hatiku dan belajar mengikhlaskan segalanya. Aku akan mengikuti ketetapan-Nya, menerima semua rencana-Nya tanpa memaksakan rencanaku. Aku tak khawatir melepas mu yang pernah menjadi sumber dosaku, karena aku yakin Allah-ku akan menggantikanmu dengan yang lebih baik asal aku terus bersabar dan memperbaiki diri menjadi umat yang dicintai-Nya. Ku matangkan hatiku untuk berhijrah, dan maaf kau tak akan lagi kusebut dalam doaku, karena dalam doaku tak akan ku sebut nama yang bukan menjadi kekasih halalku.

KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA (Part III)

Mahasiswa di Universitas Paramadina. Suatu kebanggaan bagi saya, seorang tukang cuci, seorang yang tak mampu, dan seorang yang sering ditiadakan keberadaannya bisa mengenyam pendidikan di universitas ini. Saat saya masuk saya bertekad untuk menjadi mahasiswa terbaik pada kelulusan nanti.

Biaya kuliah memang gratis, tapi ternyata biaya-biaya lainnya sangat mahal, mulai dari buku, praktikum, atau tugas-tugas lainnya. Saya beruntung kenal dan hingga kini bersahabat dengan Ulfa Aulia, dia sama seperti saya, anak beasiswa. Bersamanya, saya kembali berdagang, berkeliling kampus menjajakan makanan kecil dan kue-kue basah. Malu? Tentu saja tidak! Pernah saya melakukan tindakan illegal yang sangat tidak patut untuk di contoh (maafkan kami para akademisi , karena kami dulunya tidak paham dengan tindakan ini)…. Yups…. Kami menjual buku-buku yang tidak asli. Grade Ori si, jadi keliatannya kaya asli .. heheh. Jujur, dari hasil penjualan buku inilah kami meraup untung yang sangat besar. Meskipun kami harus berpanas-panasan siang hari ke Pasar Senen.

IMG_20141107_074615

Zhafira Nadiah dan Ulfa Aulia (Mahasiswa Anti Rugi)

Ulfa Aulia, menjadi patner terbaik saya dikampus. Pernah kami lapar saat menunggu jam kuliah berikutnya, dan kebetulan di kampus ada seminar yang menyediakan makanan berat. Lalu, dengan santainya kami masuk sebagai peserta hanya untuk mendapatkan makanan lalu pergi bahkan sebelum acara dimulai. Pantry Kampus… Pantry ini khusus untuk karyawan sebenarnya, namun karena OB yang baik kami diijikan untuk mengisi air minum di Pantry. So… kami tidak perlu membeli minum diluar. Masa-masa ini sunggu indah untuk dikenang, namun tidak cocok untuk ditiru ya teman.

Oia… selama kuliah saya tidak punya laptop, padahal laptop sudah menjadi kebutuhan mahasiswa. Untungnya dikampus tersedia lab dan perpustakaan yang bisa diakses oleh Mahasiswa, sehingga untuk berhemat kami mengerjakan tugas disana. Sampai pada akhirnya, Allah memberikan saya laptop. Kok bisa?? Tentu saja, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Saya menang kompetisi Instagram! Dan hadiahnya 1 Unit Laptop. Ya Allah, Engkau Maha Baik.

2016….. Keadaan keuangan mulai membaik. Saya sudah bekerja saat itu. Saya berhutang budi dengn Kak Vivin, senior saya di tempat kerja saya pertama (Setelah lulus & pada saat mengisi waktu libur kuliah). Dia yang merekomendasikan saya ditempat tersebut. Playfield Kid’s Academy, tempat pertama saya bekerja sesuai dengan ilmu perkuliahan saya. Tempat tersebut menjadi ajang saya untuk belajar dan mempraktikan langsug ilmu yang saya dapatkan. Terlebih karena memang saat itu baru dibuka, jadi saya bisa berekspreiment dengan ilmu PR. Terlebih di Paramdina banyak dosen-dosen keceeeeh yang selalu terbuka untuk berdiskusi meskipun diluar jam perkuliahan, jadi semakin banyak hal yang bisa terapkan di Playfield.

Kuliah sambil bekerja sangat melelahkan, IP saya pun sempat turun. Lalu disemester 7 teman-teman sudah banyak yang mulai mengerjakan skripsi. Ah rasanya saat itu saya sangat malas karena pekerjaan di Playfield cukup menguras waktu saya. Hingga pada akhirnya saya kembali pada tujuan saya. Saya harus lulus lebih cepat, saya harus bisa mengejar teman-teman saya yang sudah menyusun skripsi. Lagi-lagi campur tangan Allah sangat terlihat jelas, Allah mempermudah perjalanan saya menyususn skripsi. Dan saya bisa lulus sesuai dengan keinginan dan target saya, 3,5 tahun dengan predikat kelulusan Magna Cumlaud. Allahuakbar…. Ini sangat membahagiakan, Saya berhasil menjadi sarjana. Impian Ibu, impian Umi, Impian Ayah, dan impian saya sendiri berhasil terwujud. Sungguh saat kelulusan menjadi moment terbaik dalam hidup saya. Usaha saya yang hanya tidur 3-4 jam perhari karena baru bisa mengerjakan skripsi selepas pulang kerja membuahkan hasil.

IMG_20170308_122420

Moment Kelulusan Zhafira Nadiah

Wisuda Paramadina. Pagi itu senyum terpancar dari raut dua orang yang paling saya sayangi, Ibu dan Nenek (Umi). Mereka sangat antusias datang ke wisuda saya. Ibu dan Umi, memakai pakaian terbaiknya pada saat saya wisuda, tak henti-hentinya saya melihat aura kebahagiaan yang luar biasa dari mereka. Dalam hati saya ucapakan “Ibu, Ayah, Umi, semoga kalian bangga dengan ini, karena semua perjuangan ini untuk kalian, orang-orang terhebat dalam hidup saya”.

IMG_20170422_141654.jpg

Wisuda Zhafira Nadiah dan Ayah

IMG_20170422_114738.jpg

Wisuda Zhafira Nadiah dan Ibu

Apalagi yang membahagiakan? Pengumuman pada saat wisuda. Jujur, saat itu saya harus melawan rasa haru yang ingin menitikan air mata pada saat MC Wisuda mengumumkan bahwa saya merupakan wisudawan terbaik Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina dengan predikat kelulusan Magna Cumlaude (satu tingkat diatas predikat cumlaude). Saya terharu karena saat itu saya seperti ditampilkan bagaimana usaha-usaha saya sebelumnya, dari mulai awal ingin sekali bisa kuliah sampai bisa lulus. (Video Pengumumannya Graduation Day Universitas Paramadina )

“Usaha tidak akan pernah mengkhiati hasil”, inikah bukti dari apa yang pernah saya baca saat itu? Ya… saya percaya sejatinya memang benar, bahwa hasil akan berjalan sesuai dengan usaha yang dilakukan. Itulah kisah yang tak akan pernah bisa saya lupakan, dan selalu tekenang. Allah sangat baik, Dia selalu ada dan tak pernah meninggalkan saya, meskipun seringkali saya yang meninggalkan-Nya. Anak kampung itu berhasil menjadi sarjana. Sekarang saya memiliki kehidupan yang sangat lebih baik dari apa yang pernah saya alami. Jangan pernah putus asa, jangan pernah menyerah, karena semua pasti ada jalannya.

Tulisan saya saat ini, saya buat untuk bisa mengingatkan saya akan usaha keras yang membuahkan hasil dan inipun akan terus memotivasi saya untuk melangkah kedepannya. Doakan ya teman, semoga saya bisa kembali melajutkan kuliah ke jenjang Master, dan tentunya gratis. Hehe karna kalau bayar biayanya mahal . Semoga… saya bisa kuliah lagi segera. AamiinYra. Terima kasih teman, sudah bersedia membaca tulisan saya yang mungkin membosankan dan monoton. Semoga bermanfaat untuk sisi positifnya, dan mohon maaf bila ada tulisan yang tidak berkenan.

“KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA” (PART II)

Terdaftar sebagai siswa kelas Internasional (pada jamannya) tidak mudah, mereka tentu jauh lebih pintar dari pada saya. Tapi percayalah, dari mereka, dari perlakuan buruk seorang guru, dan dari guru matematika yang sangat objektif, mereka justru menjadi motivasi saya untuk maju. Saya yang amat sangat tidak diperhitungkan bisa membuktikan dengan memberikan nilai rata-rata 9 di hari kelulusan pada saat itu. Kelulusan SMA dengan nilai yang bagus adalah cara saya membuat orang-orang yang saya sayang bangga. Senang rasanya bisa mewujudkan tujuan saya sebelum masuk SMA, yakni “I want to make people around me, proud of me”. And I did it…

Sebelum lulus SMA saya mulai mencari informasi perkuliahan. Dulu ada yayasan yang ingin membantu meringankan biaya kuliah saya jika saya berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Saya gagal di SNMPTN hingga saya memutuskan ikut tes seleksi PTN jalur lainnya. Disisi lain, saya juga mulai meng-apply beasiswa di Universitas Paramadina (Full Scholarship). Dan melakukan semua tahapan tersebut sendiri tanpa didampingi siapapun, persis saat saya mendaftar SMA dulu. Saat mereka diantarkan keluarganya dari mulai tahap pendaftaran, tes fisik, tes tertulis, interview, dan lulus tes, saya mengurusinya sendiri, dan berbagi kebahagiaan kelulusan seleksi dengan Ibu melalui telepon.

Oya… pada saat mendaftar beasiswa Universitas Paramadina, ada dua essay yang harus saya buat, dan salah satu essaynya adalah judul tulisan ini “Ketika Aku Berbeda Dengan Mereka”, melalui essay tersebut saya tuliskan bagaiman saya berbeda dengan teman-teman saya pada saat SMA. Sunggu ini essay yang  sangat bagus untuk mengeksplor apa yang saya rasakan.

“Saya harus berhasil, saya harus jadi orang, saya ngga mau anak saya nanti merasakan apa yang saya rasakan, saya harus membuat mereka bangga, saya tidak boleh gagal, saya ingin merubah apa yang mereka pikirkan terhadap saya bahwa nasib anak tidak akan jauh dari Ibunya, saya ingin merubah itu”.

Itulah kalimat yang terus saya ulang dalam pikiran saya. Yang mendorong saya untuk berlari, karena dengan berjalan saja tidak akan mampu membuat saya mengejar mimpi yang terlalu jauh dengan kata “MUNGKIN”. Lagi-lagi saya merasakan Allah menggenggam erat menuntun saya ke sebuah cahaya. Cahaya yang bertuliskan “kesempatan”. Terima kasih Allah. Saya diterima di sebuah perguruan TInggi Negeri di Depok, namun dengan jurusan yang bukan passion saya. Angin baik kembali menyapu raut wajah bahagia saya dengan tertulisnya nama saya di website Paramadina yang menyebutkan bahwa saya  lolos  di jurusan yang saya inginkan dan bisa kuliah gratis sampai dengan lulus* (*Syarat dan ketentuan IP minimum tetap berlaku yaaa).

Allah.. saya bahagia tapi saya bingung harus pilih yang mana. Hingga pada akhirnya kalian tentu tahu, ya saya memilih Paramadina, dan meninggalkan kesempatan menjadi siswa PTN favorit. Saat itu saya yakin kerena ada beberapa faktor pertimbangan yang lebih membuat saya condong memilh paramadina yakini:

  1. Jaraknya dekat, jadi meskipun saya tidak punya ongkos, saya tetap bisa kuliah dan terbukti, saya pernah sama sekali tidak pegang uang, namun masih tetap datang ke perkuliahan.
  2. Beasiswa ini full sampai lulus, kalau di PTN meskipun ada bantuan dari yayasan tentunya saya harus berpikir untuk bisa membayar sisa uang kuliah nantinya.
  3. Saya bisa menempuh pendidikan sesuai dengan passion saya dan jurusan yang sudah lama saya idam-idamkan.

Ya, setidaknya 3 faktor itu meyakinkan saya, untuk memilihnya.