When I decided Not to Get Married

Beberapa waktu lalu saya membuat sebuah postingan di media sosial yang secara tidak langsung mendeklarasikan bahwa saya tidak tertarik untuk berpacaran bahkan menikah. Sontak postingan saya menuai banyak komentar dari orang-orang terdekat saya yang merasa mereka harus menegur atau menasehati saya bahwa itu semua bukanlah suatu pilihan yang tepat.

Saya memang berpikir bahwa menikah bukanlah sebuah keharusan. Bahkan kalau melihat kisah terdahulu, Siti Maryam pun hidup tanpa seorang pasangan hingga akhir hayatnya. Menikah justru membuat seseorang menyerahkan diri kepada sebuah permasalahan. Semua orang tahu bahwa sebuah rumah tangga tentu memiliki permasalahan entah itu kecil ataupun besar. Lalu kenapa saya harus memilih untuk terlibat dalam sebuah masalah jika saya bisa menghindarinya?

Menikah… sebuah hal yang indah mungkin namun juga bisa menjadi sebuah mimpi buruk dalam kehidupan. Beberapa orang berhasil membina rumah tangga mereka, namun tidak sedikit pula yang gagal dalam mempertahankan rumah tangga. Semua kegagalan itu berasal saat orang-orang tersebut memutuskan untuk menikah.

Saya tahu, jika Ibu dan Ayah saya tidak menikah saya tidak mungkin ada saat ini. Namun, entahlah saya hanya berpikir bahwa tidak menikah adalah sebuah pilihan yang tepat. Dengan tidak menikah, saya bisa mengejar apa yang saya cita-citakan, saya bisa kuliah lagi, berkarir, menjelajah ilmu dan juga menikmati masa-masa kesendirian itu bersama keluarga saya. Lalu apakah pemikiran saya salah? Jika saya menikah, belum tentu orang yang menikahi saya akan mengizinkan saya untuk mengejar impian saya, pasti sudah ada batasan-batasan yang dia berikan.

Saya pernah membayangkan dan hampir merealisasikan membangun sebuah rumah tangga. Dalam benak saya kala itu, rumah tangga saya akan sangat indah, penuh dengan keharmonisan, kasih sayang dan rasa ingin senantiasa bersama disaat suka maupun duka, baik di dunia maupun diakhirat kelak. But you know what? It’s all just a bullshit! That dreams have been disappeared.

Okay balik lagi ke pokok awal tulisan ini, jadi beberapa orang yang secara serius menasehati saya memberikan pandangan agama tentang keputusan saya, yang menurut mereka itu semua menyimpang dari ajaran agama. Jujur, itu semua membuat saya mencari-cari apakah keputusan ini salah? Jelas Salah! Saya Salah! Agama justru memerintahkan untuk menikah, memperbanyak keturunan, dll. Menikah memang tak selalu berbuah manis, namun menikah bisa menjadi ladang ibadah yang terus menerus. Menikah itu membawa berkah asal niatnya untuk ibadah. Lalu, dalam masa pencarian ini, justru membuat saya berpikir, hmm mungkin saya akan menikah tahun depan. Oh My God, I know this is really crazy.

Hmm.. entah bagaimana akhirnya, yang jelas saat ini saya hanya berusaha untuk terus fokus memperbaiki diri saya dan mungkin sampai waktu yang Allah tentukan, saya akan menikah.