Hikmah dari Akhir Kisah Hubungan 5 Tahun

IMG_20150806_082804

Blinded by love… Manusia terlahir untuk mencintai dan dicintai. Saya pun yakin bahwa tidak sedikit orang yang juga dibutakan oleh cinta, dan saya menjadi salah satunya yang pernah merasakan cinta buta. Hmm jujur saja, rasanya tidak penting membahas kisah saya disini, but maybe someday my story will be useful to everyone who stuck on their blind love!

Singkat cerita, saya menjalin hubungan dengan orang yang sangat penting dan berarti dalam hidup saya (dulu). Kenapa penting dan berarti? I know him since i was in Senior High School . Dia waktu itu menjadi guru PPL, before i met him, i feel so lonely, i was bad in math, bad in my school, and bad in my own life. Dia pun datang, dan ngerubah semuanya. He was my motivation, teacher, and boyfriend. Dia yang selalu men-support saya untuk maju dan gamudah patah semangat, termasuk dalam hal mendidik saya agar menjadi lebih baik. Semua yang dia lakukan ke saya membuat saya merasa no one can replace him. Bagi saya dia segalanya, dan kami mulai membangun hubungan di Januari 2012.

Sayangnya, karena hal-hal yang menurut dia saya masih terlalu kecil, suka ngambek, dll.. Ngebuat dia ninggalin saya dan pilih perempuan lain yang usianya hanya beda 1 tahun, karena kalau sama saya bedanya 6 tahun.. Well diluar itu saya benar-benar patah hati dan hilang semangat. Bayangkan saja, berat badan saya yang tadinya 72KG langsung nyusut jadi 58KG dalam waktu 1,5 bulan. Saya benar-benar merasa kehilangan sosk tersebut. Sampai akhirnya kami berhubungan lagi setelah 3 bulan berpisah, dan dia merasa menyesal. Saya pun memang menunggu dia dan mencoba untuk setia.

Janji-janji dan mimpi kami bangun lagi, dan saya merasa kali ini dia akan menjad milik saya sampai menikah. Di awal tahun ini mimpi-mimpi kami untuk ke pelaminan sangat kuat, sampai pada bulan April dia memberanikan diri bilang ke ibu saya untuk melamar saya di Desember tahun ini. Perasaan saya saat itu sangat senang sekali, akhirnya saya akan menikah dengan orang yang paling berarti dalam hidup saya.

Sampai pada akhirnya, badai datang kembali. Dia kembali merasa jenuh dengan hubungan ini dan memutuskan untuk pergi, sebagai perempuan dengan insting yang cukup kuat, saya merasa aneh dengan keputusannya. Benar saja, usut punya usut dia ternyata menjalin kasih dengan seseorang yang menurut dia agamanya lebih bagus dibandingkan saya, dia memilih untuk meninggalkan saya demi perempuan tersebut, peremluan yang baru dia kenal selama 3 bulan. Itu sangat menyakitkan! Untuk kedua kalinta saya merasakan sakit yang amat sangat luar biasa. Bayangkan saja, dia dengan mudahnya meninggalkan saya padahal sudah janji ke ibu untuk melamar dan serius akan menikahi saya. Sungguh luar biasa sakitnya!

Lalu, saya hanya bisa berdoa dan selalu berdoa yang sama yakni “ya Allah jika dia memang jodoh saya, maka satukanlah kami dalam ikatan yang suci dan engkau ridhoi, namun jika tidak, hamba mohon dengan sangat bantu hamba melupakannya”. Beberapa waktu selanjutnya, saya mendengar kabar bahwa ibu dan keluarganya tidak ada yang suka dengan perempuan tersebut, mereka hanya menginginkan saya yang menjadi bagian dari keluarganya kelak. Tidak dipungkiri, saya begitu bahagia, ini seperti pintu yang terbuka untuk saya. Ibu dan ayahnya juga keep in touch dengan saya dan terus berharap agar kami bersama. Sampai akhirnya, dia memilih untuk kembali dengan saya namun dengan syarat tidak pacaran, tapi segera menikah. Subhanallah…. Bukankah Allah telah mendengar doa saya?.. And then, dia bilang alesannya karna ibunya tidak suka dengan prempuan tersebut, dan sebagai anak laki-laki dia mengikuti ibunya. Saya sangat bersyukur saat itu, akhirnya penantian saya menunggu terbalaskan.

Badai pun belum berhenti, saat saya berpikir saya dan dia dapat segera menjadi pasangan halal, ibu justru menjadi orang yang paling menentang kisah kami. Ibu sangat tidak setuju dan marah besar atas kebodohan saya yang dengan gampangnya menerima dia lagi. Saya menjadi lebih keras dari ibu, saya tentang ibu, dan sampai sebulan tidak berbicara ataupun saling menegur. Saya sampai anggap bahwa ibu tidak ada, karena ibu sangat jahat menentang hubungan saya. Saya terus jalan dan menjalin hubunga tersebut meski tanpa restu ibu dan persetujuan keluarga besar ibu. Saya tidak peduli! Bahkan saya marah besar ketika ibu meminta saudar-saudara saya untuk menasihati saya agar tidak menikah, dan memikirkan kembali pilihan saya.

Awal oktober, kami memutuskan untuk memilih tanggal 6 November menjadi tanggal lamaran, dan menikah ditanggal 2 Januari 2017. Kami ingin cepat menjadi pasangan suami istri. Menurut saya waktu itu, menikah adalah caryang tepat agar membuat dia tidak meninggalkan saya lagi, karna dia janji kalau sudah nikah pasti tidak akan menyakiti apalagi ninggalin. Keluarga besar dari ibu menentang keras, sampai saya diceramahin beberapa saudara dan terlibat adu omongan, saya kekeh dengan rencana tersebut. Bahkan saya sampai berucap “yaudah ya, sekarang gini aja, kalau dia emang bukan yang terbaik buat fira pasti bakalan pisah meskipun pas udah mau akad pasti bakalan gajadi. Tapi kalau dia emang jodoh fira, pls stop complaining! Kalau dia jodoh, fira akan nikah sma dia dan gaada halangan apapun”.

Saya pun masih terlibat perang dingin dengan ibu. Rencana lamaran (3 minggu menjelang tanggal 6) sudah kami persiapkan, mulai dari sewa tempat untuk lamaran, pesan makanan, bahkan cincin pernikahan yang sudah diukir nama juga siap. Tinggal menunggu dan menghitung hari. Dari keluarga saya kemungkinan hanya dihadiri oleh tante, nenek, dan perwakilan keluarga ayah. Oia dia juga sudah siapkan mas kawin untuk penikahan nanti.

Waktu berselang, setelah semua dipersiapkan, keraguan mulai menghampiri saya. Saya mulai berpikir tentang mimpi untuk melanjutkan kuliah dan meraih gelar sebanyak-banyaknya, kursus mempelajari bahasa-bahasa, dan mendapatkan karir yang cemerlang, hal tersebut mulai menghantui saya, sebab apa masih mungkin semua bisa tercapai dan saya lakukan setelah saya menikah? Dan yang terpenting sebenernya adalah ” Rasa Rindu “, ya… Rasa rindu saya terhadap ibu.saya sangat rindu ibu, rindu memeluknya, bercanda, berbagi cerita, saya merasa tidak lengkap. Namun, saat keraguan itu muncul, saya terus melawannya dan menganggap semua pasti bisa dan akan baik-baik saja, terlebih setelah saya menikah dengan orang yang paling saya cintai. Persiapan juga sudah selesai, keluarga pria dan keluarga saya sudah diundang dan tahu, jadi anggapan saya ini semua tidak akan dan tidak mungkin batal.

Namun takdir berkata lain. 2 minggu menjelang lamaran, saya 2 kali bertemu dengan seseorang yang menasehati saya dengan cara yang berbeda. Dia tidak melarang saya untuk mengambil keputusan saya, dan tidak juga mendukung. Dia hanya membuka pikiran saya melalui pengalamannya yang intinya sama dengan saya meskipun beda cerita dan konteks, sama dalam artian tidak direstui orang tua.

Banyak hal yang dia katakan, yang paling saya ingat ” Lo masih muda fir, masih panjang.. Lo mikir dia bakal berubah dan ga ninggalin lo atau selingkuh lagi setelah nikah. Lo yakin? Emang ada jaminannya dia gakaya gitu lagi? Masalahnya lo udah 2 kali digituin. Lagian kalo ada apa2 setelah lo nikah, terus lo bisa apa? Cerai? Kalau cerai udah pasti pandangan orang ke lo beda fir! Lo udah gagal dalam ngejalin rumah tangga. Atau lo pilih bertahan? Yakin lo kuat ngejalaninnya?. Dia bisa pilih ngikutin omongan ibunya, terus kenapa lo gabisa? Nyokap lo tuh yang ngelahirin lo, ngebesarin lo, hidup lo lebih lama sama nyokap lo dibandingkan dia. Lo pikirin lagi deh fir”

Tenggggggggg………… Omongannya pas sasaran, kena dan ngebuat saya berpikir banyak. Argumen-argumen saya selama ini dipatahin dengan logikanya yang yaaaaaa… Memang benar dan bisa diterima. Sekian banyak keluarga ibu yang menasehati saya tidak ada satupun yang bisa patahin argumen saya dan ngebuat saya mendengarkan dan ngebuka pikiran. Tapi dia luar biasa!

Sampai akhirnya karena saya semakin ragu, saya memutuskan untuk membuat pertemuan kedua belah keluarga. Inilah penentuan, mana yang menurut saya bisa meyakinkan saya akan saya ikuti. Di pertemuan tersebut hadir keluarga dia, ibu saya, nenek, tante dan om dari ayah saya (yang nantinya menjadi wali saya). Perbincangan dimulai…… Inti dari perbincangan tersebut, keluarga dia meminta agar tanggal 6 nanti lamaran jadi dilaksanakan. Namun ibu saya keukeh meminta untuk ditunda . Jawaban ibu saya cukup menyayat hati saya. Ibu bilang “alif (nama samaran mantan saya), jujur ibu udah sayang banget sama alif. Ibu udah anggap alif kaya anak ibu sendiri. Ibu seneng banget alif mau ngelamar anak perempuan ibu desember nanti. Tapi sumpah demi Allah ibu kecewa sama alif, ini udah dua kali alif ninggalin fira dan kasusnya sama. Ibaratnya nih, lukanya masih nganga , masih basah2nya. Ibu mau ditunda biar nanti ibu bisa nerima alif dengan iklas tanpa ada rasa sakit hati, ibu ngerasain gaenak banget rasanya kalau nikah tapi mertua dan keluarga ngebenci pasangan kita sendiri. Ibu gamau kaya gitu, ibu mau alif bener-bener ibu terima tanpa beban.”

Ya Allah, ternyata itu alesan ibu selama ini. Sediiiiih… Anyway keluarganya dia ttep kekeh mau tanggal 6 apalagi semua keluarga besarnya katanya udah pada tau, trus akhirnya singkat cerita lagi semua minta pandangan saya tentang ini. Sumpah rasanya gaenak banget, pengen pergi dari tempat tersebut aja, pengen lari dari kenyataan aja, abis bener-bener bingung gimna. Satu sisi mau ikut ibu banget, satu sisi gaenak sama keluarga calon karna pastu ngecewain. Tapi karna saya udah mulai gabuta, saya mkir kalau syaa harus pilih ibu, ibu kasihan, masa saya mementingkan menjaga perasaan orang lain dibandingkan perasaan ibu saya sendiri, kan ga fair!. Akhirnya saya bilang “fira sayang alif, sayang banget banget… Fira juga uda anggap mama, papa, kaya orang tua fira sendiri. Tapi disatu sisi fira juga kangen ibu, fira capek berantem dan diem2an sama ibu smp sebulan.Kangen banget sama ibu. Ini emang berat, tapi fira bakal ikut ibu apapun keputusannya”.

Situasi pun makin memanas, ibu makin terpojokan, semua yang disana maksa ibu buat ngerestuin (semuanya tanpa terkecuali) , ibu bener2 dipojokin banget, dan disitu saya merasa semakin kasihan dan gatega ibu saya digituin. Keluarga dia sampai bilang kalau ini gajadi, akan mundur dan gaakan minta lagi. Ibu pun kekeh bilah untuk nunda dulu, paling tidak sampai bulan april, karena kakak saya juga mau menikah di Januari. Keluarganya bilang nunda sama aja nolak, dan gamau nunggu. Alif juga gamau nunggu.

Saat ibu dipojokan dalam hati saya hanya bisa berdoa agar ibu istiqomah sama pilihannya, krna saya jadi yakin untuk tidak meneruskan. Tapi ibu sempat bilang ngebolehin dan ikut suara untuk jadiin tanggal 6, meskipun muka ibu keliatan terpaksa dan gaikhlas. Beberapa kali saya colek ibu diam2 dan bilang ke ibu untuk gausah, fira ikut ibu. Fira ikhlas firia ikut ibu. Dan ibu pun istiqomah lagi buat nunda. Kalau digambarin suasananya itu full of drama banget karena air mata dimana2. Akhirnya keluarga dia merasa tersinggung sepertinya dan marah karena merasa ditolak, sampai akhirnya bubaaaaaaar. Lamaran dibatalin, dan hubungan saya dan dia selesai!. Selesai? Iya selesai karena dia juga bilang kalau dia gaakan mau nunggu, kalau seandainya dia ketemu perempuan lain dan pas sama dia yaudah dia sama perempuan itu. Jadi keputusan saya ngebuat saya dan dia gaakan pernah jadi satu lagi. Jujur diawal itu sakit karena harus kehilangan dia selama-lamanya, karena saya tahu dia gaakan balik lagi, tapi Allah Maha Baik, Dia dengan mudahnya buat saya lupa dan hilangin perasaan saya ke dia. Sampai saya hanya berkabung beberapa hari saja, beda banget sama kemarin-marin. Terus saya justru ngerasa kehilangan beban, lebih bahagia da menikmati hidup sekarang. Saya juga lihat kalau saya masih terlalu muda, belum saatnya. Yang paling menyenangkan adalah melihat senyum di wajah ibu ke saya, omelan-omelannya, dan panggilan-panggilannya yang udah lama gasaya dapat, saya dapatkan lagi. Ini memang yang terbaik 🙂

Hikmahnya adalah jangan pernah bergantung pada pasangan, dan menutup diri dari dunia yang sangat luas. Dia memang sudah banyak memberikan pelajaran untuk saya, namun kami tidak berjodoh. Orang yang bener-benar menyayangi kita setulus hati akan menunggu seberapa pun lamanya. Seorang ibu, seburuk apapun dia, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, beliau pasti tidak ingin anaknya merasakan pahit dan terluka. Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya, saya menerima itu dan saya juga tidak menyesali keputusan saya. Terus ya, perkara nikah bukan hal yang main-main, banyak hal yang harus pertimbangin, yang paling penting gaada konflik diantara kedua keluarga. Kalu emag ragu atau tau kalau dia bukan yang terbaik mending diputuskan diawal, jangan tutup mata hati dengan rasa cinta, jangan mentang-mentang cinta sama dia sampai lupa kalau manusia gaada yang sempurna. Kalau udah lamaran apalagi nikah, terus baru batal, duuuuuh… Itu malunya lebih setengah mati. Keluarga juga pasti bakal malu tuh. Jadi yaudah jangan buta-buta dan dibegoin sama cinta guys!. Anyway someone told me that happiness is a choice, and i choose to be happy. I am happy with my own life right now… Saya percaya jodoh saya nantinya adalah yang terbaik yang Tuhan kasih, dan sekarang mungkin masih belum ketara, nanti kalau udah waktunya juga langsung nikah. Wkwkwkwk

Terimakasih untuk seseorang yang sudah membuka mata hati dan pikiran saya, kalau tidak ada kamu mungkin saya gatau udah gimana sekarang. Kamu hadir tepat waktu, hadir disaat nasi belum menjadi bubur. Many big thanks for you!!! Pokoknya ngerasa utang budi banget, semoga Allah yang balas kebaikan kamu 🙂

Notes : This is true story of me. Take it or leave it, make your own decision! And sorry if you found too much typo, i wrote this page by my phone.