Sikap Saya Sebagai Mahasiswa Mengenai Kenaikan Harga BBM Tahun 2014

Pertengahan November merupakan saat-saat penting yang menyangkut kepentingan bersama, dimana pada saat itu pemerintah yakni Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengambil peran untuk menaikan harga BBM bersubsidi. Jumlah kenaikan BBM terbilang cukup tinggi yakni sebesar Rp. 2.000 untuk BBM jenis solar dan premium. Premium sebelumnya dibandrol dengan harga Rp. 6.500/liter menjadi Rp. 8.500/liter dan solar dari Rp. 5.500/liter menjadi Rp. 7.500/liter.

Dilansir dari situs online kompas.com pada tanggal 18 November 2014 , Presiden Joko Widodo menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meski harga minyak dunia saat ini sedang turun. Politikus partai Golkar, Nurul Arifin pada situs online Tempo mengaku heran dengan Pemerintah yang menaikan BBM, padahal harga minyak dunia sedang turun. “Harga BBM di pasar dunia lagi turun, kenapa Indonesia malah naikan? Logikanya dimana?” kata Nurul di kantor Golkar, Jakarta 15 November 2014.

Menurut Nurul, pemerintah harus lebih berhati-hati saat mengambil kebijakan untuk menaikan harga BBM tersebut. “Jika memang pemerintah akan menaikan harga BBm, maka harus jelas peruntukan subsidi yang dialihkan itu,”ujanrnya. Ia mengatakan selama ini sosialisasi pemerintah dalam pengalihan subsidi BM masih belum transparan.

Selain dari situs yang saya cantumkan, saya juga mengikuti perkembangan dari awal rencana kenaikan BBM hingga terjadinya kenaikan tersebut dari berbagai macam surat kabar. Saya termasuk orang yang kontra terhadapa kenaikan BBM, saat ini kenaikan BBM memang terbilang kurang tepat, mengingat harga minyak dunia yang sedang turun. Meskipun turunnya harga minyak dunia kemungkinan hanya terjadi selama 2-3 bulan, tetapi seharusnya pemerintah dapat lebih berpikir ulang dalam menaikan harga BBM tersebut.

Banyak hal dan aspek kehidupan yang bergantung pada harga BBM, bila BBM naik sudah pasti harga sembako, tarif angkutan umum, dan berbagai harga lainnya ikut naik. Kondisi ini sungguh memprihantinkan melihat masih banyaknya rakyat Indonesia yang keadaan ekonominya belum cukup. Pendapatan mereka tidak sebanding dengan pengeluaran mereka, terlebih jika BBM dinaikan, ini akan membebankan mereka. Sebagai seorang mahasiswa, saya pun merasa terbebani dengan kenaikan BBM bersubsidi ini, karena menambah nilai pengeluaran saya. Mungkin beberapa dari teman saya tidak merasa keberatan dengan kenaikan tersebut, dan bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa “kenapa harus dipermasalahkan, motor yang harganya jutaan bisa dibeli, handphone yang baru juga bisa dibeli, bahkan saat harga rokok naik pun perokok masih membelinya, namun hanya karena kenaikan BBM bersubsidi membuat orang-orang berisik, seperti kebakaran jenggot saja”. Saya ingin meluruskan kembali bahwa tidak semua orang mampu membeli motor, handphone baru. Dan ketika harga rokok naik, hal tersebut tidak memengaruhi berbagai harga dari barang-barang lainnya yang menjadi kebutuhan. Berbanding terbalik dengan kenaikan BBM yang memengaruhi harga dari barang-barang lainnya. Jadi saya menganggap orang yang berpendapat seperti ini, perlu untuk memperluas pikiran mereka, agar dapat melihat bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang berada di taraf ekonomi kurang mampu.

Presiden Jokowi memang sudah menyiapkan alternatif untuk membantu keadaan ekonomi rakyat dengan mengeluarkan Kartu Indonesia Sejahtera yang diberikan kepada rakyat yang kurang mampu. Namun langkah ini dinilai lamban, karena pembuatan kartu ini tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat. Mulai dari persiapan, pendataan ulang, pengecekan kelengakapan dokumen, pemrosesan, hingga pada tahap pembagian uang tunai, bukanlah hal yang mudah dan dengan kurun waktu yang singkat. Padahal BBM sudah dinaikan, sehingga rakyat yang kurang mampu akan merasakan dampak dari kenaikan BBM. KIS pun dinilai kurang efektif, karena pembagian merujuk pada data sebelumnya dimana pada data sebelumnya, pembagian tidak menyeluruh. Tidak semua orang yang kurang mampu mendapatkan bantuan. Seharusnya Presiden Jokowi mengaplikasikan terlebih dahulu alternatif yang meringankan beban masyarakat yang kurang mampu sebelum menaikan harga BBM.

Saya juga cukup heran dengan partai yang mengusungkan Presiden Jokowi, PDI-P. dimana partai tersebut pada pemerintahan sebelumnya menolak keras kenaikan BBM, namun pada pemerintahan yang dipimpin Presiden Jokowi, mereka justru mendukung kenaikan BBM bersubsidi. Selain itu, saya menganggap bahwa pada proses penaikan harga BBM menghilangkan nilai sila ketiga dari Pancasila yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”, dalam hal ini rakyat tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut, karena Presiden Jokowi hanya bermusyawarah atau berunding dengan wakil presiden dan para menteri saja, beliau tidak melibatkan DPR atau Dewan Perwakilan Rakyat, sehingga keputusan yang diambil bukan merupakan keputusan rakyat, tetapi keputusan sebagian pemerintah. Pada intinya saya mulai kecewa dengan kepemimpinan Presiden Jokowi. Saya berharap cara pengambilan keputusan yang menyangkut nasib rakyat seperti ini menjadi hal terakhir yang dilakukan Presiden Jokowi beserta Wakil dan para menterinya.

Sumber           :

http://www.nasional.kompas.com berita ditampilakan pada hari Selasa, 18 November 2014. Dan diakses pada tanggal 1 Desember 2014, Pukul 21.15 WIB

http://m.tempo.com berita ditampilkan pada hari Minggu, 16 November 2014. Dan diakses pada tanggal 2 Desember 2014, Pukul 20.30 WIB

Semangatin Diri

Jakarta, 17 April 2015

Tepat hari ini seakan menjadi puncak dari titik kejenuhan saya. Apa yang membuat saya jenuh? Teman, lingkungan, kuliah? Ya.. Opsi terakhir saya rasa menjadi jawaban yang tepat. Bulan ini merupakan pertengahan kuliah di semester 4. Sangat cepat bukan waktu berjalan? Rasanya baru kemarin saya mengikuti GMP (Graha Mahardika Paramadina) salah satu kegiatan orientasi pengenalan terhadap mahasiswa baru, tahun ini bahkan akan memasuki semester 5.

Baiklah, kembali lagi ke alasan mengapa saya jenuh, saya rasa ini karena tugas di semester ini yang memang makin serius dan memiliki tingkat kesulitan yang sesuai dengan semester saya. Manajemen waktu yang baik sangat di perlukan, sebab setiap minggu selalu saja ada tugas yang membuat saya harus bisa menang melawan balapan melawan deadline yang diberikan. Saya harus bisa mengalahkan rasa kantuk ketika mengerjakan tugas setiap malam hingga dini  hari. Pernah saya dibuat tidak tidur hanya untuk bertarung membuat makalah dan power point untuk presentasi keesokan paginya. Sungguh suatu hal yang luar biasa untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Tetapi disaat mata dan pikiran mulai lelah, disaat jenuh melanda, selalu muncul di pikiran saya, kata-kata yang sering diucapkan oleh kakak saya “proses tidak pernah membohongi hasil”, begitulah yang sering di ucapkan hingga membuat saya terpacu untuk melakukan yang terbaik, sebab jika saya melakukannya dengan instant, saya yakin saya akan mendapatkan hasil yang instant pula (mendapat hasil yang buruk).

Saya sadar semakin tinggi tingkatannya maka akan semakin banyak yang harus di uji. Kalau saya berhasil lolos ujan tersbut maka saya bisa melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Saya mematok target yang harus bisa saya lampaui, maka dari itu saya harus mengeluarkan effort yang lebih untuk bisa mencapainya.

Terakhir, Ibu dan Almarhum Ayah saya menjadi alasan saya harus bersemangat dan keluar dari titik kejenuhan ini, sebab saya berjanji untuk selalu membuat mereka tersenyum bangga.

Regards,

ZhafiraNz

Paramadina Kampus Budaya

image

Universitas Paramadina merupakan salah satu universitas swasta di Jakarta. Paramadina didirikan pada tanggal 10 Januari 1998 dengan nama Paramadina Mulya. Salah satu pendiri dari Paramadina merupakan cendikiawan muslim terkenal, yakni Nurcholis Madjid atau yang lebih sering disapa dengan panggilan Cak Nur.

“Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya” seperti itulah pepatah yang tergambar antara Universitas Paramadina dengan Cak Nur. Hal ini dikarenakan pemikiran dan ciri khas Cak Nur yang tidak bisa dilepaskan dari Universitas Paramadina. Cak Nur mengembangkan pemikiran islam yang moderat, dan Cak Nur sangat sering melakukan diskusi-diskusi. Hingga saat ini, kegemaran Cak Nur dalam berdiskusi memunculkan budaya yang turun-temurun di miliki mahasiswa-mahasiswa Paramadina.

Kampus Budaya begitulah salah satu julukan dari Universitas yang berada di Gatot Subroto ini. Banyaknya kegiatan diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa maupun civitas akademis, penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bagus, dan lingkungan kampus yang sangat kekeluargaan menjadi alasan mengapa Paramadina menjadi kampus budaya.

Salah satu bentuk kampus budaya juga tercermin ketika kegiatan GMP (Graha Mardika Paramadina) berlangsung. GMP merupakan kegiatan orientasi pengenalan kampus untuk mahasiswa baru. Jika di kampus/universitas lain ada ospek yang biasanya berisi kegiatan yang “mengerjai” mahasiswa baru, di Paramadina kegiatan tersebut dibuat agar mahasiswa merasa dekat dan nyaman di Paramadina. Terdapat pembicara-pembicara hebat yang mengisi kegiatan ini. Contohnya saja pada GMP 2013, dimana wakil Gubernur DKI Jakarta diundang untuk menjadi pemateri, dan juga Bapak Arief salah satu guru besar Universitas Negeri Jakarta yang paling ditunggu karena keunikan dari gaya penyampaian materinya yang sangat disukai oleh mahasiswa.

Selaim itu, Paramadina juga banyak kedatangan tamu penting lainnya. Sebut saja Presiden Joko Widodo saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pernah datang ke Paramadina untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Paramadina. Hadir pula saat itu walikota Bogor, Bima Arya, dan anggota DPR.

Paramadina tidak diragukan lagi mendapat julukan kampus budaya kareba terbukti memang banyak kegiatan-kegiatan yang sangat berkualiatas dan membangun.

Zhafira Nadiah Zuhri