Kenapa Perempuan Harus Berpendidikan Tinggi?

4bbf1978797ec42e1411a4373297c2adBeberapa orang mungkin masih menganggap bahwa pendidikan tinggi hanya untuk kaum laki-laki, karena mereka nantinya akan menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab pada keluarganya. Lalu, perempuan sebagai ibu rumah tangga tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi, apalagi sampai menyaingi pendidikan suami. Baik, itu menurut pandangan beberapa orang, dan perbedaan pandangan mungkin wajar. Namun kali ini saya juga akan berpendapat tentang pendidikan tinggi perempuan.

Kenapa sih perempuan harus berpendidikan tinggi? Sadar gak sih kalau nanti perempuan itu akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya? pendidikan jelas akan membedakan bagaimana seorang ibu mengajar anaknya. “Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula” begitu kata pepatahnya. Meskipun pada kenyataannya tidak sedikit orang yang berkuliah hanya untuk mendapatkan gelar saja, bukan ilmunya. Padahal point penting ketika kuliah adalah ilmu yang didapat, tapi sayangnya arogansi dan gengsi meleburkan semua kegunaan awalnya, dan inilah yang bisa menjadikan orang sombong dengan gelar tinggi yang dimilikinya. Seharusnya pendidikan tidak membuat perempuan jumawa dan merasa lebih baik dari orang yang berada dibawahnya.

Kontribusi dalam hal pendidikan sangatlah penting, dengan intelektual yang dimiliki oleh perempuan berpendidikan, mereka dapat menerapkan ilmunya ke berbagai sektor kehidupan yang  membutuhkannya. Perempuan dengan pendidikan yang baik tidak akan mudah pula bergantung oleh orang lain. Lebih mandiri katanya. Lagi pula, dengan pendidikan tersebut, tentu saja perempuan bisa membantu finansial keluarga. Entah itu dengan bekerja sebagai profesional ataupun membuka usaha sendiri. Namun, jika nantinya berakhir di Ibu Rumah Tangga, pendidikan tinggi seorang perempuan tetap tidak akan sia-sia, ya kembali lagi ke point pertama akan sangat berguna juga untuk berkontribusi pada keluarganya kelak.

Perempuan, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya! Ini bukan untuk menyaingi seorang laki-laki karena seberapapun tingginya pendidikanmu, tetap perempuan berada dibelakang laki-laki yang mempimpinnya (re: kepala keluarga). Selain perintah agama, menuntut ilmu juga akan membuka dan menambah wawasanmu sehingga semakin terbukalah pikiran dan cara kamu memandang segala sesuatunya. Satu hal yang pasti, ilmu itu tidak basi, bisa dipelajari tanpa kenal batas usia, jadi selagi ada kesempatan terus tambah ilmu dan pendidikanmu. Lagi pula hidup dijaman dengan kompetisi yang ketat, tidak cukup jika hanya mengandalkan kecantikan saja, kecantikan tidak abadi, akan memudar seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ilmu dan pendidikan akan abadi bahkan bisa dilanjutkan ke generasi penerus.

“If you educate a man, you educate an individual. But if you educate a woman, you educate a nation. When girls are educated, their countries become stronger and more prosperous. One child, one teacher, one book and one pen can change the world.”

Lho Fir, Jatuh Cinta?

Cinta merupakan anugerah dari Tuhan yang memiliki rasa yang luar biasa indahnya. Bagaimana tidak, orang-orang yang jatuh cinta pasti akan lebih bersemangat menjalani harinya, terbayang oleh pujaan hati, bahkan sampai terbawa dalam mimpi. Menyenangkan bukan? Ya seharusnya. Tetapi, sayangnya tidak semua jatuh cinta berujung bahagia. Cinta bertepuk sebelah tangan? Mencintai orang yang salah? Atau bahkan hal lainnya yang mungkin justru membuat akhir dari perasaan tersebut menjadi luka.

Urusan cinta memang sepertiya tidak ada habisnya jika dibahas. Ada saja kisah rumit atau kerikil yang menghadang, karena hidup kita bukan FTV yang segala akhir dari kisahnya sesuai perencanaan dan ekspetasi penonton. Lalu, saya pun jatuh cinta. Saya jatuh cinta pada seseorang yang dapat dikatakan ada namun tiada.

Diam, mungkin hanya itu cara satu-satunya yang bisa saya lakukan saat ini. Why? Entah dari dulu hingga saat ini prinsip saya masih sama yaitu “Lebih baik mencintai daripada dicintai”, padahal sudah tahu kalau mencintai itu pasti sakit, karena itu keinginan kita bukan keinginannya, karena kita yang burusaha bukan dia, karena kita yang mengejar bukan juga dia. Berkali-kali teman memperingatkan untuk mengubah konsep itu, namun entah tetap tidak bisa. Oleh karena itu, konsekuensi yang saya terima adalah “sakit”. Ya, konsep itu selalu berakhir pada “disakiti” bukan “menyakiti”. So, that’s why i choose to love in silence.

Then, ketika saya coba untuk membuka hati, ujung-ujungnya malah kecewa. Saya jatuh cinta (duuuh.. pernyataan klasik yang rasanya sudah lama tidak saya rasakan), Saya jatuh cinta pada seseorang yang ada namun tiada. This man is real, tapi gak ada dipandangan saya ataupun disekitar saya… Some ppl mungkin mengerti apa maksudnya. lalu saya tahu bahwa orang tersebut sedang membuka hati pada orang lain (i mean i’m not the only one). Jelas, saya pasti akan langsung mundur, karena saya tidak pernah beruntung untuk urusan percintaan apalagi jika orang tersebut sudah disandingkan dengan dua pilihan atau bahkan lebih. Pasti saya tidak akan jadi yang dipilih 😅 But dibalik “give up” nya seorang Fira, ada langkah lain yang biasa saya lakukan dan menurut saya sangat ampuh. “Doa”, ada bacaan dari solat tahajud yang menurut saya doa ini menjadi dasar saya mempercayai kekuatan Doa, “dan Janji-Mu adalah benar”. Begitu artinya jika diterjemahkan ke bahasa indonesia.

Ya, janji-Nya selalu benar. Saya percaya doa mampu merubah segalanya. Saya berdoa, lalu jika Allah tidak menginginkan itu berjalan sesuai dengan yang saya mau, hasilnya pasti selalu baik. Ingat saja kata-kata-Nya di Al-baqarah 216. Ini sudah sering saya alami. Jadi, jika nantinya saya tidak beruntung dan kembali harus bertepuk sebelah tangan………. satu, dua, tiga, hari, bulan, atau tahun setelahnya pasti ada kisah baik yang Allah buatkan untuk saya. Meskipun pada awal mungkin tidak terima, namun ini yang dinamakan ikhlas dan sabar dalam menjalankan takdirnya.
Dan pada akhirnya, ketika saya jatuh cinta, hanya diam dan doa yang menjadi “senjata” saya. Biar Allah yang pilihkan jalannya, biar Allah yang atur semuanya.

Oiya, pengalaman membuat saya tidak terlalu sulit untuk membaca perilaku dan sikap seseorang, terlebih membaca sikap dan sifat kaum adam. Kalau dibilang selektif dalam mencari pasangan, ya itu sebuah keharusan, karena bukan waktunya lagi untuk main-main meskipun belum ada rencana menikah.

Sayangnya, kadang kalau ada yang dekat pasti ada kebanyakan tidak masuk di penilaian yang paling utama yang saya nilai. “sholat”, mungkin saya bukan merupakan orang yang baik, namun sholat tetap menjadi landasan utama agama kan, jadi bagaimana mungkin seorang mampu menjadi imam jika kewajiban pada Tuhannya saja masih diremehkan dan tidak diutamakan. Padahal semua nikmat yang didapat itu pemberian dari Tuhannya. Kadang saya juga berpikir apa penilaian utama saya itu terlalu sulit dan tidak masuk akal ya ? hmm tapi pasti orang baik yang menjaga shalatnya tetap ada, dan dia kah salah satunya? Duh kan jadi ……….. haha sudahlah biar Allah yang atur saja akhir kisahnya.

Sekarang kembali ke jalur biasanya, menyibukan diri untuk melupakan rasa indahnya jatuh cinta yang sejujurnya terlalu cepat untuk terpaksa disudahi karena mungkin akan berujung kecewa atau sakit jika dibiarkan terlalu lama, dan memilih untuk bahagia dengan Mandiri (melakukan semuanya sendiri 🙂), menikmati hidup dan masa-masa muda yang semakin cepat berlalunya. Baik, diakhir mau semangatin dan mengibur diri sendiri dengan kata “Sing sabar yoo Fir, legowo. Inget, masih ada Allah yang gapernah ninggalin Fira.”

Siapapun Berhak Bermimpi!

cymera_20170503_123942-1985846163.jpg

Contoh mimpi palsu yang gak keukur, jangan ditiru ya guyssss.. Just for fun. lol

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia”, satu bait pada lagu Laskar Pelangi milik Nidji yang penuh makna dan menggambarkan kekuatan dari sebuah mimpi. Sudah lama memang lagu tersebut, namun liriknya tetap bisa memotivasi orang lain untuk terus bermimpi tanpa lelah sampai apa yang diimpikannya tercapai. Terlpas dari lagu tersebut, mimpi selalu memiliki peranan besar ketika seseorang memiliki tujuan dan cita-cita.

Menurut saya, tidak ada yang salah dalam sebuah mimpi, asalkan kongkrit dan dapat terukur. Seseorang yang memautkan prinsip hidupnya dengan “Go with the flow”, mungkin akan bertolak belakang dengan kelompok pemimpi. Bayangkan, jika kalian hanya mengikuti arus, dan arus membawa kalian ke perairan yang dalam dan menjadi sarang bintang buas, apakah kalian akan pasrah berlabuh ditempat tersebut? atau bergegas untuk melawan arus agar tidak sampai kesana? Think again!.

Seorang pemimpi tidak akan pernah takut untuk menempuh semua jalur agar sampai di tujuannya, meskipun jalur yang dilewatinya tak semulus jalan tol. Selalu ada lubang, kubangan air, dan jalan berbatu yang menyambut mereka pada setiap bagian dari ceritanya. Namun, jika mimpi sudah dibulatkan, tekad pun tidak terpatahkan, dan semangat selalu terbaharukan. Itulah sang pemimpi.

Saya pun senang menjadi bagian dari kelompok pemimpi. Optimisme dalam menggapai mimpi selalu terbangkitkan tiap kali pandangan saya “fokus pada satu titik” (lho jadi lari lagu via vallen 😅). Diremehkan, dikucilkan, bahkan tidak didukung pun saya dapatkan. Lalu, apa saya harus berhenti karena itu semua? tentu tidak! Saya percaya, mulut-mulut jahat yang berselimut dalam manisnya ucapan akan terbungkam dengan sendirinya, saat kita dapat membuktikan bahwa kita bisa dan kita mampu.

Jangan pernah jadikan ucapan orang lain sebagai tolak ukur dan pedoman hidupmu. Kamu berjalan, berjuang, mengambil resiko, dan berkorban materi dengan dirimu sendiri. Bukan mereka! Maka dari itu, tempatkan mereka pada posisi terbawah dalam hidupmu, namun jangan lupa untuk terus membantu orang-orang ini ketika kamu berhasil mimpimu. Itu mungkin akan menjadi pelajaran yang menampar mereka, bahwa sejatinya orang yang diremehkan justru menjadi orang yang mengulurkan tangannya untuk mereka. Ingat, “The best revenge is massive success!” (ini kata Frank Sinatra yaaa, bukan quote by Fira).

Jadi, teruslah bermimpi dan lakukan apa yang kamu inginkan. Tidak peduli berapa pun orang yang mendukung atau menjatuhkan, mimpimu tetap milikmu dan untukmu. Jika kamu bersungguh-sungguh, kelak kamu akan memanen buah manis dari itu jerih payahmu. Ayo berjuang dan tetap semangat 🙂

GOD ANSWERS IN 3 WAYS!

god answer

This is one of my favorite quotes. Terkadang kita sering berada pada titik dimana kita berucap “kok Allah gak denger doa gue ya?”, “Kok udah berjuang mati-matian tapi gak sesuai harapan”, “Kok gini”, “Kok gitu”, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang menjustifikasi kalau Allah gak sayang sama kita karena Dia memberikan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Jujur, kutipan ini memang benar, dan pas banget untuk diterapkan dalam kehidupan. Bagaimana cara Allah menjawab ya dengan 3 hal itu. Kutipan tersebut juga gajauh beda sama ayat favorit saya, yakni surah Al-Baqarah ayat 216 (2:216) yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Sadar gak si kalo kita sebagai manusia, gak ada yang tahu rencana indah apa yang sedang Allah rancang untuk kita. Kita gapernah tahu, kalau doa yang kita panjatkan atau usaha keras yang kita lakuin nantinya akan berujung buruk untuk diri kita, oleh karena itu, Allah sengaja gak kabulin doa tersebut, atau Allah sebenarnya akan mengabulkan doa-doa tersebut, hanya saja Dia meminta kita untuk belajar sabar, karena doanya akan terkabul di waktu yang tepat dan dengan cara yang indah. Sabar pun akan mengajak kita pada kedamaian dan ketenangan hati, karena kita tidak merasa ada satu hal yang mengganjal. Saat itu pula Allah ingin melihat seberapa besar kesungguhan kita untuk mencapai doa tersebut.

Baik, disini mungkin saya akan kasih contoh konkritnya. Pertama, ketika Allah tidak mendengar doa saya and I thank God that He didn’t answer some of my prayers, because sometimes what I thought was the best for me wasn’t the best at all. Mulai dari masalah pernikahan (maaf bukan berarti flashback, ini hanya sebagai pelajaran). Saat saya meminta Allah untuk jodohkan Dia dengan saya, tentu Allah mengatakan tidak. Perih? Ya mungkin saat itu, namun endingnya saya bahagia, sangat bahagia. Ternyata dari apa yang Allah katakan tidak, membuahkan hikmah yang luar biasa. Saya justru bersyukur tidak jadi menikah pada saat itu, karena nyatanya jika saya menikah … hmmmm…. Hubungan dengan ibu, Pendidikan, karir, serta kehidupan saya mungkin tidak akan pernah sebaik ini. (btw I have moved on, and clearly, I’m not philophobic anymore) His plan’s always the best.

He say wait and gives you the best. Cari pekerjaan dijaman sekarang susah bukan? Ya itu yang 2 tahun lalu saya rasakan. Memang, pada dasarnya saat itu saya sudah bekerja dan bahkan sudah punya posisi yang bisa dikatakan lumayan. Namun beberapa faktor membuat saya merasa harus segera pindah. Setiap malam mencoba apply melalui website lowongan kerja, dan hasilnya tidak ada. Sampai saya menghubungi teman saya yang bekerja sebagai CS untuk dapat bekerja disana, padahal jika diliat dari benefit yang didapatkan sangat jauh dari apa yang sudah saya capai. Sempat bertanya, “kenapa sih kok Allah gak dengerin doa Fira, fira kan mau pindah kerja, Allah pasti tahu alesannya”, dan keraguan pun muncul untuk mengambil pekerjaan CS tersebut karena bekerjanya di bank. Akhirnya saya hanya bersabar dan terus berusaha untuk mencari pekerjaan, sampai suatu hari saya diinterview oleh perusahaan yang letaknya sangat dekat dengan rumah saya. Masih ragu saat itu, karena saya baru pertama kali mungkin terjun di industri tersebut. Saya pun interview dan mengikuti testnya. Hampir sebulan kemudian keputusannya keluar kalau saya diterima. Alhamdulillah… sangat senang saat itu, karena saya bisa pindah bekerja, dan ternyata setelah saya bergabung dengan perusahaan ini, saya bersyukur karena lingkungan yang begitu nyaman dan dapat bekerja secara professional. Indah sekali cara Allah menjawab doa saya ini.

Terakhir, He Says Yes and give you what you want. Hmm.. sepertinya untuk yang satu ini sudah banyak terkabul. Wkwk . I am truly blessed! God has definitely blessed me with more than I deserve! I’m so thankful for all He has done and given. Rencananya sangat sempurna. Cara Allah menjawab ya ini, 3 hal : Ya, Tidak, Tunggu. Pahami, nikmati dan terima apapun kehendak-Nya dengan lapang dada. Terlebih, Kata-Nya, kita harus bersyukur, maka Dia akan menambah nikmat-Nya (Ibrahim:7). Jadi apapun, jawaban Allah terhadap doa-doamu teruslah minta dan bersyukur untuk apapun hasil dari doa yang Allah berikan.

Goodbye December, Hello January!

zhafira nadiahTime never stops for anyone. Dia akan terus berjalan sampai akhirnya berhenti ketika sudah saatnya berhenti (re:hari akhir). Desember menutup 2018 dengan sangat manis, and I welcomed January 2019. Sedih? Ya mungkin, bagi saya 2018 menjadi tahun terbaik! Proses pendewasaan, pencapaian target, dan lainnya menjadi satu. Saya pun menjuluki 2018 sebagai tahun “Belajar”. Saya belajar menghargai setiap waktu yang saya miliki, belajar melepas kekecewaan dari tikaman sahabat, belajar melupakan rasa perih, belajar menerima apapun keadaan yang Allah berikan, belajar untuk bersabar meski lelah, dan belajar mengkepalai sebuah club jomblo (just kidding wkwk). Sungguh luar biasa rasanya, dan semua hal tersebut semakin membentuk saya untuk berpikir dewasa.

Rasa syukur dan terima kasih saya yang teramat besar kepada-Nya, membuat saya tidak berpikir untuk menutup akhir tahun dengan berhura-hura. Tidak ada kembang api, tidak ada terompet, tidak ada makan malam besar bersama. Saya memilih untuk mengintropeksi kesalahan dan apa yang harus saya perbaiki. Lagi pula, pergantian tahun menandakan bahwa jatah hidup yang Allah berikan semakin berkurang. Jadi, untuk apa saya merayakannya ?!. Tepat pukul 00.00 WIB dihari selasa kemarin, 2019 datang. Harapan baru pada setiap impian lama ataupun baru menjadi list untuk diwujudkan. Satu hal yang pasti, saya rindu pendidikan! Rasanya sudah cukup beristirahat dengan buku-buku ilmiah, berdiskusi dengan pakar ilmu, dan dibuat pusing oleh tugas-tugas yang bisa mempersingkat waktu tidur saya. InshaAllah tujuan utama bisa terwujud, melanjutkan S2.

Tetapi, berbicara tentang pendidikan, mungkin saya juga harus meminta maaf kepada para akademisi yang telah mendidik saya sebelumnya untuk side job yang saya lakukan dan mungkin menyalahi aturan integritas, meskipun menurut saya tidak ada pihak yang dirugikan, karena niat awalnya hanya membantu dan menjadi simbiosis mutualisme antara saya dan para mahasiswa yang saya bantu. Maaf  ya Bapak, Ibu, mungkin karena saya belum terkena pencerahan lagi. But sooner or later pasti akan saya akhiri.

Lalu, keyakinan saya di 2019 banyak rencana yang akan Dia dengar dan Dia izinkan terjadi untuk saya. Allah, semoga ini tidak berakhir dengan kekecewaan, karena pengharapan ini hanya kepada-Mu. Aamiin… Setidaknya, kejutan pertama sudah tiba, dan saya bahagia J . Terima kasih Allah. Oiya, ada hal lainnya yang ingin saya bagi, di post berikutnya.. Stay tuned!

Ayah, Bisakah Aku Memelukmu?

Hari demi hari berganti, aku semakin tumbuh dan mereka bilang aku sudah dewasa. Dunia menawarkan pahit dan manis kisahnya, terlebih saat usia semakin bertambah, berbagai rintangan pun semakin sulit. Aku lelah, lalu ku putuskan untuk berhenti. Tenang, aku hanya butuh istirahat sebentar saja.

Lalu, ditepian perhentianku, ku rasakan kembali ruang yang sudah mendebu karena kosong selama 22 tahun. Ruang ini sangat senyap dan mengundang sendu bercampur rindu. Ayah!!!! sosokmu tak nampak. kehangatanmu, kasih sayangmu, pelukanmu, ah… itu menjadi lubang yah, karena semuanya belum pernah bisa ku rasakan. Bahkan tak pernah dalam ingatan, hanya terukir dalam impian.

Mereka menangis, lalu Ayah mereka menghiburnya. Mereka takut, lalu Ayah mereka memeluknya. Mereka jatuh, lalu Ayah mereka membangunkannya. Mereka Kecewa, Ayah mereka menasehatinya. Bagaimana denganku? seharusnya aku panjatkan rasa syukurku karena Ibu selalu berusaha mengisi posisimu, Yah… Tetapi, tetap saja tak bisa membuatku merasakan kehadiran mu, Ayah.

Ayah, aku rindu… Aku ingin merasakan apa yang mereka rasakan. Aku ingin kau belai rambutku dengan kasih sayangmu, berbagi kisah tentang kehidupan yang ku yakin kau lebih berpengalaman daripada ku, kau genggam tanggannya saat kau tahu aku mulai terjatuh, kau beri wejangan untuk bisa memaafkan saat kecewa kurasakan, dan mentertawakan cerita kecil bersama. Ayah, Bisakah aku memelukmu? Aku janji, ini hanya sebentar saja, hanya diwaktu lelah ku. Bolehkah aku memelukmu, Yah?.

Ah sudahlah… ruang itu mungkin memang selalu akan kosong dan semakin mendebu. Aku tak bisa menutupnya, namun aku yakin kita akan mengisi ruang tersebut bersama pada saat yang indah itu tiba. Semogaaa…

Kini, aku harus segera kembali berjalan. Bangkit setelah berisitirahat dari kelelahan. “Ini hanya sementara, rindu ini pasti segera terobati” tanamku dalam pikiran yang mendalam. Baiklah, ku akhiri segala kelelahan untuk mengejar semua impian. Biarlah doaku yang menjadi jembatan penghubung antara aku dan sosok yang menahun sudah di surga-Nya… Ayah ❤

ZhafiraNZ

KAPAN NIKAH?

WhatsApp Image 2018-11-06 at 11.15.06 PMPernah ga teman-teman seusia saya ataupun lebih mungkin merasa muak dengan pertanyaan “kapan nikah”? pertanyaan yang menurut gue ambigu, karena antara basa-basi dan ngeledek. Yang santai si mungkin ngadepinnya biasa aja, terus kalo yang sensi biasanya langsung sinis. Hmm.. menurut saya yang santai pun bisa risih dan sinis jug si kalo ditanyain kaya gitu terus-terusan, meskipun dengan orang yang berbeda.

M E N I K A H  menjadi hal yang didambakan manusia, baik itu perempuan ataupun laki-laki. Bahkan kaum LGBT pun tertarik untuk menikah, meskipun hokum Indonesia tidak akan pernah melegakannya. Intinya most people want to get married. Lalu, apa karna itu semua menikah menjadi ajang perlombaan? Tidak seharusnya. Pola pikir tersebut harus dirubah, karena pernikahan bukanlah sebuah perlombaan lari yang berbalapan untuk sampai di garis finish. Toh pada kenyataannya tidak sedikit orang yang menikah dengan terburu-buru lalu menyesal dengan pernikahannya.

Bisa bayangkan bagaimana jika kamu sibuk iri dengan sekeliling yang sudah menikah, lalu sibuk mengerjar pernikahan dan akhirnya mendapat pasangan yang tidak sesuai keinginan? Mencari jodoh itu tidak seperti mencari baju dipasar, kalau sudah suka langsung beli terus pakai. Perkara pemilihan pasangan jelas berbeda! Kamu harus benar-benar tahu bagaimana orang tersebut (calon pasangan), dan untuk tahu itu semua ya pasti ada prosesnya (untuk proses disini saya tidak setuju dengan harus pacaran). Itu semua harus benar-bener di nilai dan dipikirkan matang-matang, karena kamu akan hidup dengan orang yang kamu pilih, bertemu dengannya setiap hari, tahu kebiasaan baik dan buruknya. Kalau dari awal kamu sudah tergesa-gesa menentukan pilihan, apa kamu yakin saat menjalani dengannya dia sejalan dengan kamu ?

Come on, berpikirlah dengan logika bukan dengan ego. Lalu, ada juga yang menikah karena menganggap dengan menikah masalah akan selesai. Contoh: menikah agar tidak usah lagi bekerja, menikah agar jauh dari keluarga yang tidak satu pemahaman, menikah agar tidak overprotective lagi dengan pasangan, dll. Jujur, saya dulu pernah menjadi salah satu dari orang yang berpikir seperti ini, rasanya pengen buru-buru nikah aja biar masalah selesai. Alhamdulillah Allah masih sayang saya dan bukain mata hati saya, karena semua itu salah. Yang namanya menikah justru menambah perkara meskipun bisa diselesaikan.

Inget, ini kehidupan nyata bukan FTV ataupun kisah dongeng kuno, yang dengan menikahi pangeran lalu sang puteri hidup bahagia selama-lamanya dan si penjahat lenyap ditelan bumi. Kenyataannya apa ? setiap rumah tangga pasti ada permasalahnnya. Jarang banget ada rumah tangga yang bener-bener mulus. Saya memang belum menikah, tapi saya memperhatikan orang-orang yang sudah menikah. Sekalipun terlihat harmonis tetap saja ada satu dua perkara yang tidak sejalan atau sepahaman. Ya namanya juga manusia yang karakternya dinamis.

So guys, stop menjadikan pernikahan sebagai ajang perlombaan dan pelarian. Jodoh sudah ada yang atur, dan memiliki waktunya masing-masing untuk datang. Tergesa-gesa dalam memilih pasangan bisa membuat manusia putus asa karena menyesal dengan pilihannya. Dan jika sudah menikah, tidak mudah untuk berpisah, karena pasti banyak hal yang harus dipertimbangkan kalaupun memilih untuk berpisah.

Terakhir, bagi teman-teman yang suka usil nanya “kapan nikah”, duuuuh mending itu di stop ya atau seengaknya dikurang-kurangin deh. Kita kan gatau isi hati orang gimana, dan daripada nanya kaya gitu mending kasih calon yang bisa diseleksi. wkwk

Santai aja… karena Urusan Jodoh Tak Perlu Risau, Pada Saatnya Allah Pilihkan Yang Terbaik.

 

ZhafiraNZ