Ayah, Bisakah Aku Memelukmu?

Hari demi hari berganti, aku semakin tumbuh dan mereka bilang aku sudah dewasa. Dunia menawarkan pahit dan manis kisahnya, terlebih saat usia semakin bertambah, berbagai rintangan pun semakin sulit. Aku lelah, lalu ku putuskan untuk berhenti. Tenang, aku hanya butuh istirahat sebentar saja.

Lalu, ditepian perhentianku, ku rasakan kembali ruang yang sudah mendebu karena kosong selama 22 tahun. Ruang ini sangat senyap dan mengundang sendu bercampur rindu. Ayah!!!! sosokmu tak nampak. kehangatanmu, kasih sayangmu, pelukanmu, ah… itu menjadi lubang yah, karena semuanya belum pernah bisa ku rasakan. Bahkan tak pernah dalam ingatan, hanya terukir dalam impian.

Mereka menangis, lalu Ayah mereka menghiburnya. Mereka takut, lalu Ayah mereka memeluknya. Mereka jatuh, lalu Ayah mereka membangunkannya. Mereka Kecewa, Ayah mereka menasehatinya. Bagaimana denganku? seharusnya aku panjatkan rasa syukurku karena Ibu selalu berusaha mengisi posisimu, Yah… Tetapi, tetap saja tak bisa membuatku merasakan kehadiran mu, Ayah.

Ayah, aku rindu… Aku ingin merasakan apa yang mereka rasakan. Aku ingin kau belai rambutku dengan kasih sayangmu, berbagi kisah tentang kehidupan yang ku yakin kau lebih berpengalaman daripada ku, kau genggam tanggannya saat kau tahu aku mulai terjatuh, kau beri wejangan untuk bisa memaafkan saat kecewa kurasakan, dan mentertawakan cerita kecil bersama. Ayah, Bisakah aku memelukmu? Aku janji, ini hanya sebentar saja, hanya diwaktu lelah ku. Bolehkah aku memelukmu, Yah?.

Ah sudahlah… ruang itu mungkin memang selalu akan kosong dan semakin mendebu. Aku tak bisa menutupnya, namun aku yakin kita akan mengisi ruang tersebut bersama pada saat yang indah itu tiba. Semogaaa…

Kini, aku harus segera kembali berjalan. Bangkit setelah berisitirahat dari kelelahan. “Ini hanya sementara, rindu ini pasti segera terobati” tanamku dalam pikiran yang mendalam. Baiklah, ku akhiri segala kelelahan untuk mengejar semua impian. Biarlah doaku yang menjadi jembatan penghubung antara aku dan sosok yang menahun sudah di surga-Nya… Ayah ❤

ZhafiraNZ

KAPAN NIKAH?

WhatsApp Image 2018-11-06 at 11.15.06 PMPernah ga teman-teman seusia saya ataupun lebih mungkin merasa muak dengan pertanyaan “kapan nikah”? pertanyaan yang menurut gue ambigu, karena antara basa-basi dan ngeledek. Yang santai si mungkin ngadepinnya biasa aja, terus kalo yang sensi biasanya langsung sinis. Hmm.. menurut saya yang santai pun bisa risih dan sinis jug si kalo ditanyain kaya gitu terus-terusan, meskipun dengan orang yang berbeda.

M E N I K A H  menjadi hal yang didambakan manusia, baik itu perempuan ataupun laki-laki. Bahkan kaum LGBT pun tertarik untuk menikah, meskipun hokum Indonesia tidak akan pernah melegakannya. Intinya most people want to get married. Lalu, apa karna itu semua menikah menjadi ajang perlombaan? Tidak seharusnya. Pola pikir tersebut harus dirubah, karena pernikahan bukanlah sebuah perlombaan lari yang berbalapan untuk sampai di garis finish. Toh pada kenyataannya tidak sedikit orang yang menikah dengan terburu-buru lalu menyesal dengan pernikahannya.

Bisa bayangkan bagaimana jika kamu sibuk iri dengan sekeliling yang sudah menikah, lalu sibuk mengerjar pernikahan dan akhirnya mendapat pasangan yang tidak sesuai keinginan? Mencari jodoh itu tidak seperti mencari baju dipasar, kalau sudah suka langsung beli terus pakai. Perkara pemilihan pasangan jelas berbeda! Kamu harus benar-benar tahu bagaimana orang tersebut (calon pasangan), dan untuk tahu itu semua ya pasti ada prosesnya (untuk proses disini saya tidak setuju dengan harus pacaran). Itu semua harus benar-bener di nilai dan dipikirkan matang-matang, karena kamu akan hidup dengan orang yang kamu pilih, bertemu dengannya setiap hari, tahu kebiasaan baik dan buruknya. Kalau dari awal kamu sudah tergesa-gesa menentukan pilihan, apa kamu yakin saat menjalani dengannya dia sejalan dengan kamu ?

Come on, berpikirlah dengan logika bukan dengan ego. Lalu, ada juga yang menikah karena menganggap dengan menikah masalah akan selesai. Contoh: menikah agar tidak usah lagi bekerja, menikah agar jauh dari keluarga yang tidak satu pemahaman, menikah agar tidak overprotective lagi dengan pasangan, dll. Jujur, saya dulu pernah menjadi salah satu dari orang yang berpikir seperti ini, rasanya pengen buru-buru nikah aja biar masalah selesai. Alhamdulillah Allah masih sayang saya dan bukain mata hati saya, karena semua itu salah. Yang namanya menikah justru menambah perkara meskipun bisa diselesaikan.

Inget, ini kehidupan nyata bukan FTV ataupun kisah dongeng kuno, yang dengan menikahi pangeran lalu sang puteri hidup bahagia selama-lamanya dan si penjahat lenyap ditelan bumi. Kenyataannya apa ? setiap rumah tangga pasti ada permasalahnnya. Jarang banget ada rumah tangga yang bener-bener mulus. Saya memang belum menikah, tapi saya memperhatikan orang-orang yang sudah menikah. Sekalipun terlihat harmonis tetap saja ada satu dua perkara yang tidak sejalan atau sepahaman. Ya namanya juga manusia yang karakternya dinamis.

So guys, stop menjadikan pernikahan sebagai ajang perlombaan dan pelarian. Jodoh sudah ada yang atur, dan memiliki waktunya masing-masing untuk datang. Tergesa-gesa dalam memilih pasangan bisa membuat manusia putus asa karena menyesal dengan pilihannya. Dan jika sudah menikah, tidak mudah untuk berpisah, karena pasti banyak hal yang harus dipertimbangkan kalaupun memilih untuk berpisah.

Terakhir, bagi teman-teman yang suka usil nanya “kapan nikah”, duuuuh mending itu di stop ya atau seengaknya dikurang-kurangin deh. Kita kan gatau isi hati orang gimana, dan daripada nanya kaya gitu mending kasih calon yang bisa diseleksi. wkwk

Santai aja… karena Urusan Jodoh Tak Perlu Risau, Pada Saatnya Allah Pilihkan Yang Terbaik.

 

ZhafiraNZ

Aku dan Philophobia

4ba92e8b8592416fead48108760d8630Pernah dengar kata philophobia? Istilah psikologi yang berarti takut akan jatuh cinta. Philophobia bisa dikategorikan ke dalam penyakit mental. Kalau dunia kedokteran mendefinisikan penyakit Philophobia ini sebagai bentuk ketakutan yang abnormal dan sebetulnya gak beralasan. Biasanya philophobia terjadi pada seseorang yang pernah mengalami kekecewaan, ketakutan, ataupun patah hati yang mendalam.

Semua perasaan itu terakam pada alam bawah sadar seorang philophobia, sehingga orang yang mengalami philophobia akan menunjukan rasa takut, gelisah, ketidaksukaan, dan berpikiran negatif terhadap sesuatu yang berkaitan dengan cinta, baik itu objek, orang, maupun situasi. Saya sempat berpikir bagaimana mungkin manusia yang terlahir dengan cinta dan kasih sayang bisa takut akan jatuh cinta? Apakah ada orang seperti itu? Sampai pada akhirnya saya tahu bahwa philophobia memang ada, karena saya bagian dari philophobia. Saya senang menjadi single, bebas mengekspresikan apa yang saya suka, bergaul dengan siapapun, dan menentukan pilihan saya tanpa adanya intervensi dari pasangan. Terlebih, dengan sendiri, saya meninggalkan apa yang agama larang, yakni “pacaran”.

Saya tidak akan pernah sadar dan tahu adanya Philophobia sampai pada suatu masa seorang teman mengingatkan gejala philophobia ada di saya. Aneh… sangat aneh.. bagi saya ini sesuatu yang normal, namun setelah bertukar pikiran dan menanyakan kepada diri saya sendiri ternyata memang apa yang dia bilang benar. Untungnya philophobia bisa hilang (tidak permanen).

Saya pernah jatuh cinta, dan menjalin hubungan selama 5 tahun dan hampir menikah, tetapi hubungan itu harus berakhir karena perbedaan prinsip dari kedua keluarga. Apa saya trauma? Tidak! Saat itu saya mengagugumi dan kembali jatuh cinta pada cinta monyet saya dulu. Belasan tahun mengagumi, hingga pada akhirnya saya berpacaran dengan seseorang selama 5 tahun dan dipertemukan kembali setelah hubungan saya selesai. Bahkan menurut saya kami lebih dekat daripada sebelum-sebelumnya.

Menghabiskan waktu bersama, menceritakan hal-hal yang menarik untuk dibahas, hingga hunting tempat baru bersama. Baiklah, saya memang jatuh cinta. Tapi sayangnya, apa yang terjalin, apa yang saya harapkan ternyata hanyalah sebuah angan kosong yang tak bertepi. Saya salah mengartikan kebaikan orang tersebut, karena apa yang menurut saya berarti, ternyata tidak untuk dia. Kisah klasik dalam percintaan, “bertepuk sebelah tangan”. Dan saya kecewa. Amat sangat kecewa.

Apa yang salah dari saya? Kenapa tidak untuk saya? Kenapa bukan untuk saya? Apa karena saya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa ? Apa usaha saya memantaskan diri ternyata belum cukup pantas? Terus menerus saya berputar di pertanyaan yang sama, hingga saya memutuskan untuk menjauh bukan karena saya ingin menjauh, namun karena dia yang meminta saya untuk menjauh dengan caranya.

Kandas hubungan 5 tahun vs bertepuk sebelah tangan dengan cinta monyet, saya pilih yang kedua, yang lebih membekas. Akhirnya, saya berjanji untuk tidak akan lagi berpacaran, kecuali jika sudah menemukan pilihan yang tepat dan untuk menikah. Lebih dari sekedar pikiran, saya trauma dan berusaha menghindari lawan jenis yang saya tahu dia memiliki tujuan untuk memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman.

Beberapa pria datang, dan dengan alasan yang sama saya bilang “saya tidak ingin lagi berpacaran”, sebagian dari mereka mundur namun ada pula yang justru melamar saya. Rasa takut, illfeel, dan tidak nyaman pun datang, saya bilang bahwa “saya tidak bisa”. Bertahun saya melakukan hal yang sama saat ada pria yang mendekat. Dengan adanya perasaan tersebut, bukan berarti saya takut dengan laki-laki, saya justru punya teman pria lebih banyak dibandingkan dengan perempuan, karena saya menilai bahwa teman pria lebih rasional dan asyik untuk diajak berdiskusi dan menjalin pertemanan. Meskipun beberapa kali saya kecewa karena mereka mengkhianati label pertemanan dengan modus yang begitu bodoh.

Lalu, seorang teman memperkenalkan saya dengan seorang pria yang begitu baik. Saya pikir kali ini saya bisa mengarah ke serius dan melupakan apa yang pernah saya alami sebelumnya. Saya dan dia begitu terbuka dan to the point pada saat membicarakan untuk hubungan yang serius tanpa harus terikat status. Awalnya, saya memang mulai membuka diri dan berpikir bahwa mungkin sudah saatnya saya harus mencoba. Namun setelah berjalan, perasaan takut, illfeel kembali datang. Rasanya itu tidak masuk akal, namun sebuah perasaan tidak bisa dibohongi dan saya pun menjauh perlahan. Saya tidak ingin menyakiti perasaan orang lain karena saya tahu bagaimana sakitnya perasaan saya ketika hanya dipermainkan atau dijadikan option ketika sedang dibutuhkan.

 “Maaf…”kalimat yang saya kirimkan untuk semua cerita yang seharusnya tak pernah saya coba buka. Saya takut jatuh cinta, The Philophobia”. Kini saya mengambil posisi tengah untuk terus berjalan tanpa behenti disisi kanan ataupun kiri. Saya pasti akan lelah dan butuh minum, namun saat itu terjadi saya yakin, saya sudah menemukan seorang yang tepat, dan tentunya sampai saya perlahan bisa menghilangkan rasa takut. Jujur saja, meskipun philophobia saya tetap santai karena saya merasa jalan masih panjang, saya bisa memanfaatkan waktu saya untuk keluarga, karir, dan cita-cita saya.

Terima kasih mantan dan cinta monyet, kalian sukses menciptakan Philophobia pada diri saya.

Maaf, Aku Berhenti Mengagumimu!

downloadTeruntukmu yang pernah ku kagumi, Seseorang yang namanya tak pernah luput dalam doa yang kupanjatkan pada-Nya. Seseorang yang hanya sanggup aku kagumi dalam diamku. Seseorang yang selalu ku shalawatkan setiap kali aku mencuri pandangan terhadapmu.  Maaf, kali ini ku putuskan untuk berhenti mengagumimu. Aku tak pernah menyerah sebelumnya, karena aku yakin Allah-ku akan mendengarkan keluh kesahku tentangmu.

Hingga pada akhirnya, aku tersadar bahwa apa yang ku lakukan telah melampaui batas. Tak jarang aku mendahului kehendak-Nya karena besarnya rasa kagumku padamu. Berkali-kali aku kecewa ketika aku terus memupuk rasa kagum pada sesuatu yang tak pasti. Aku pernah mendahulukanmu dari apapun, sampai ku lewatkan Allah yang tak akan pernah meninggalkanku. Aku pernah mengutamakan waktuku untukmu, sampai aku meninggalkan waktu untuk diriku sendiri. Kau pernah menjadi sosok yang paling berharga dalam hidupku, dan menjadi sosok yang ku impikan untuk menjadi imamku kelak.

Aku salah, karena mencintaimu bukan karena Allah. Aku malu pada Allah, untuk semua kekeliruan yang menahun ku lakukan. Perasaan yang pernah ada untukmu, merupakan suatu kebodohan. Lewat kekecewaan yang teramat besar ini, kuputuskan untuk menghentikan kebodohonku. Kini, ku jamin kau tak akan menemukan aku yang kemarin, aku yang menjadikan Tuhan sebagai alat untuk mewujudkan keinginanku bersamamu. Aah… betapa dosanya aku, dan aku menyesal.

Saat ini, kuserahkan semua urusanku pada-Nya, kulapangkan hatiku dan belajar mengikhlaskan segalanya. Aku akan mengikuti ketetapan-Nya, menerima semua rencana-Nya tanpa memaksakan rencanaku. Aku tak khawatir melepas mu yang pernah menjadi sumber dosaku, karena aku yakin Allah-ku akan menggantikanmu dengan yang lebih baik asal aku terus bersabar dan memperbaiki diri menjadi umat yang dicintai-Nya. Ku matangkan hatiku untuk berhijrah, dan maaf kau tak akan lagi kusebut dalam doaku, karena dalam doaku tak akan ku sebut nama yang bukan menjadi kekasih halalku.

Hai Ramadan! Sudikah Kau Menjumpaiku Kembali di Lain Waktu?

ramadan kareem greeting card design with mandalaSaat pintu-pintu langit dibuka, saat keberkahan diberikan tanpa henti, dan saat setiap kebaikan dilipat gandakan oleh Allah SWT. Itulah Ramadan, bulan yang penuh dengan kemuliaan. Di penghujung bulannya, umat muslim senantiasa mengharapkan kemenangan setelah satu bulan penuh berjuang melawan hawa nafsu dunia dan berbondong-bondong berburu kebaikan. Saya pun demikian, mengharapkan sebuah makna dari kemenangan.

Sayangnya, Ramadan tahun ini terasa begitu cepat. Gemuruh takbir yang berkumandang disetiap sudut negeri ini, menampilkan sebuah penyesalan, saat tersadar masih banyak kebaikan yang terlewatkan dibulan ini. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena lalai dan masih mengikuti kesenangan dunia. Sedih justru muncul menjelang hari-hari terakhir Ramadan, padahal di Ramadan sebelumnya rasanya biasa saja, pun ketika Ramadan beranjak pergi.  Hanya betabur rasa suka cita menyambut hari raya Idul Fitri.

Ramadan tahun ini.. mengundang rasa untuk saya berpikir kembali akan makna sesungguhnya. Saya mendapat banyak pelajaran pada bulan suci ini, pelajaran tentang “Keikhlasan, Kesabaran, dan Istiqomah”. Sungguh itu semua membuat saya menjadikannya Ramadan terbaik, dan saya sangat enggan melepas kepergiannya. Satu pertanyaan yang terus terulang, “Apakah saya bisa bertemu Ramadan kembali?” .

Saya tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi mendatang, sekiranya ini menjadi Ramadan terakhir saya, tentulah semakin nyata penyesalan saya karena belum menjalankan dengan sepenuh hati. Namun, jika Ramadan masih sudi menjumpai saya, semoga saya bisa lebih baik ditahun mendatang. Ramadan memang bulan yang sangat indah. Selamat tinggal Ramadan, sampai berjumpa lagi di tahun depan (InshaAllah).

Terakhir, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H untuk seluruh umat muslim di dunia, Taqoballahu Minna Wa Minkum. Mohon maaf lahir dan batin.

KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA (Part III)

Mahasiswa di Universitas Paramadina. Suatu kebanggaan bagi saya, seorang tukang cuci, seorang yang tak mampu, dan seorang yang sering ditiadakan keberadaannya bisa mengenyam pendidikan di universitas ini. Saat saya masuk saya bertekad untuk menjadi mahasiswa terbaik pada kelulusan nanti.

Biaya kuliah memang gratis, tapi ternyata biaya-biaya lainnya sangat mahal, mulai dari buku, praktikum, atau tugas-tugas lainnya. Saya beruntung kenal dan hingga kini bersahabat dengan Ulfa Aulia, dia sama seperti saya, anak beasiswa. Bersamanya, saya kembali berdagang, berkeliling kampus menjajakan makanan kecil dan kue-kue basah. Malu? Tentu saja tidak! Pernah saya melakukan tindakan illegal yang sangat tidak patut untuk di contoh (maafkan kami para akademisi , karena kami dulunya tidak paham dengan tindakan ini)…. Yups…. Kami menjual buku-buku yang tidak asli. Grade Ori si, jadi keliatannya kaya asli .. heheh. Jujur, dari hasil penjualan buku inilah kami meraup untung yang sangat besar. Meskipun kami harus berpanas-panasan siang hari ke Pasar Senen.

IMG_20141107_074615

Zhafira Nadiah dan Ulfa Aulia (Mahasiswa Anti Rugi)

Ulfa Aulia, menjadi patner terbaik saya dikampus. Pernah kami lapar saat menunggu jam kuliah berikutnya, dan kebetulan di kampus ada seminar yang menyediakan makanan berat. Lalu, dengan santainya kami masuk sebagai peserta hanya untuk mendapatkan makanan lalu pergi bahkan sebelum acara dimulai. Pantry Kampus… Pantry ini khusus untuk karyawan sebenarnya, namun karena OB yang baik kami diijikan untuk mengisi air minum di Pantry. So… kami tidak perlu membeli minum diluar. Masa-masa ini sunggu indah untuk dikenang, namun tidak cocok untuk ditiru ya teman.

Oia… selama kuliah saya tidak punya laptop, padahal laptop sudah menjadi kebutuhan mahasiswa. Untungnya dikampus tersedia lab dan perpustakaan yang bisa diakses oleh Mahasiswa, sehingga untuk berhemat kami mengerjakan tugas disana. Sampai pada akhirnya, Allah memberikan saya laptop. Kok bisa?? Tentu saja, bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Saya menang kompetisi Instagram! Dan hadiahnya 1 Unit Laptop. Ya Allah, Engkau Maha Baik.

2016….. Keadaan keuangan mulai membaik. Saya sudah bekerja saat itu. Saya berhutang budi dengn Kak Vivin, senior saya di tempat kerja saya pertama (Setelah lulus & pada saat mengisi waktu libur kuliah). Dia yang merekomendasikan saya ditempat tersebut. Playfield Kid’s Academy, tempat pertama saya bekerja sesuai dengan ilmu perkuliahan saya. Tempat tersebut menjadi ajang saya untuk belajar dan mempraktikan langsug ilmu yang saya dapatkan. Terlebih karena memang saat itu baru dibuka, jadi saya bisa berekspreiment dengan ilmu PR. Terlebih di Paramdina banyak dosen-dosen keceeeeh yang selalu terbuka untuk berdiskusi meskipun diluar jam perkuliahan, jadi semakin banyak hal yang bisa terapkan di Playfield.

Kuliah sambil bekerja sangat melelahkan, IP saya pun sempat turun. Lalu disemester 7 teman-teman sudah banyak yang mulai mengerjakan skripsi. Ah rasanya saat itu saya sangat malas karena pekerjaan di Playfield cukup menguras waktu saya. Hingga pada akhirnya saya kembali pada tujuan saya. Saya harus lulus lebih cepat, saya harus bisa mengejar teman-teman saya yang sudah menyusun skripsi. Lagi-lagi campur tangan Allah sangat terlihat jelas, Allah mempermudah perjalanan saya menyususn skripsi. Dan saya bisa lulus sesuai dengan keinginan dan target saya, 3,5 tahun dengan predikat kelulusan Magna Cumlaud. Allahuakbar…. Ini sangat membahagiakan, Saya berhasil menjadi sarjana. Impian Ibu, impian Umi, Impian Ayah, dan impian saya sendiri berhasil terwujud. Sungguh saat kelulusan menjadi moment terbaik dalam hidup saya. Usaha saya yang hanya tidur 3-4 jam perhari karena baru bisa mengerjakan skripsi selepas pulang kerja membuahkan hasil.

IMG_20170308_122420

Moment Kelulusan Zhafira Nadiah

Wisuda Paramadina. Pagi itu senyum terpancar dari raut dua orang yang paling saya sayangi, Ibu dan Nenek (Umi). Mereka sangat antusias datang ke wisuda saya. Ibu dan Umi, memakai pakaian terbaiknya pada saat saya wisuda, tak henti-hentinya saya melihat aura kebahagiaan yang luar biasa dari mereka. Dalam hati saya ucapakan “Ibu, Ayah, Umi, semoga kalian bangga dengan ini, karena semua perjuangan ini untuk kalian, orang-orang terhebat dalam hidup saya”.

IMG_20170422_141654.jpg

Wisuda Zhafira Nadiah dan Ayah

IMG_20170422_114738.jpg

Wisuda Zhafira Nadiah dan Ibu

Apalagi yang membahagiakan? Pengumuman pada saat wisuda. Jujur, saat itu saya harus melawan rasa haru yang ingin menitikan air mata pada saat MC Wisuda mengumumkan bahwa saya merupakan wisudawan terbaik Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina dengan predikat kelulusan Magna Cumlaude (satu tingkat diatas predikat cumlaude). Saya terharu karena saat itu saya seperti ditampilkan bagaimana usaha-usaha saya sebelumnya, dari mulai awal ingin sekali bisa kuliah sampai bisa lulus. (Video Pengumumannya Graduation Day Universitas Paramadina )

“Usaha tidak akan pernah mengkhiati hasil”, inikah bukti dari apa yang pernah saya baca saat itu? Ya… saya percaya sejatinya memang benar, bahwa hasil akan berjalan sesuai dengan usaha yang dilakukan. Itulah kisah yang tak akan pernah bisa saya lupakan, dan selalu tekenang. Allah sangat baik, Dia selalu ada dan tak pernah meninggalkan saya, meskipun seringkali saya yang meninggalkan-Nya. Anak kampung itu berhasil menjadi sarjana. Sekarang saya memiliki kehidupan yang sangat lebih baik dari apa yang pernah saya alami. Jangan pernah putus asa, jangan pernah menyerah, karena semua pasti ada jalannya.

Tulisan saya saat ini, saya buat untuk bisa mengingatkan saya akan usaha keras yang membuahkan hasil dan inipun akan terus memotivasi saya untuk melangkah kedepannya. Doakan ya teman, semoga saya bisa kembali melajutkan kuliah ke jenjang Master, dan tentunya gratis. Hehe karna kalau bayar biayanya mahal . Semoga… saya bisa kuliah lagi segera. AamiinYra. Terima kasih teman, sudah bersedia membaca tulisan saya yang mungkin membosankan dan monoton. Semoga bermanfaat untuk sisi positifnya, dan mohon maaf bila ada tulisan yang tidak berkenan.

“KETIKA AKU BERBEDA DENGAN MEREKA” (PART II)

Terdaftar sebagai siswa kelas Internasional (pada jamannya) tidak mudah, mereka tentu jauh lebih pintar dari pada saya. Tapi percayalah, dari mereka, dari perlakuan buruk seorang guru, dan dari guru matematika yang sangat objektif, mereka justru menjadi motivasi saya untuk maju. Saya yang amat sangat tidak diperhitungkan bisa membuktikan dengan memberikan nilai rata-rata 9 di hari kelulusan pada saat itu. Kelulusan SMA dengan nilai yang bagus adalah cara saya membuat orang-orang yang saya sayang bangga. Senang rasanya bisa mewujudkan tujuan saya sebelum masuk SMA, yakni “I want to make people around me, proud of me”. And I did it…

Sebelum lulus SMA saya mulai mencari informasi perkuliahan. Dulu ada yayasan yang ingin membantu meringankan biaya kuliah saya jika saya berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Saya gagal di SNMPTN hingga saya memutuskan ikut tes seleksi PTN jalur lainnya. Disisi lain, saya juga mulai meng-apply beasiswa di Universitas Paramadina (Full Scholarship). Dan melakukan semua tahapan tersebut sendiri tanpa didampingi siapapun, persis saat saya mendaftar SMA dulu. Saat mereka diantarkan keluarganya dari mulai tahap pendaftaran, tes fisik, tes tertulis, interview, dan lulus tes, saya mengurusinya sendiri, dan berbagi kebahagiaan kelulusan seleksi dengan Ibu melalui telepon.

Oya… pada saat mendaftar beasiswa Universitas Paramadina, ada dua essay yang harus saya buat, dan salah satu essaynya adalah judul tulisan ini “Ketika Aku Berbeda Dengan Mereka”, melalui essay tersebut saya tuliskan bagaiman saya berbeda dengan teman-teman saya pada saat SMA. Sunggu ini essay yang  sangat bagus untuk mengeksplor apa yang saya rasakan.

“Saya harus berhasil, saya harus jadi orang, saya ngga mau anak saya nanti merasakan apa yang saya rasakan, saya harus membuat mereka bangga, saya tidak boleh gagal, saya ingin merubah apa yang mereka pikirkan terhadap saya bahwa nasib anak tidak akan jauh dari Ibunya, saya ingin merubah itu”.

Itulah kalimat yang terus saya ulang dalam pikiran saya. Yang mendorong saya untuk berlari, karena dengan berjalan saja tidak akan mampu membuat saya mengejar mimpi yang terlalu jauh dengan kata “MUNGKIN”. Lagi-lagi saya merasakan Allah menggenggam erat menuntun saya ke sebuah cahaya. Cahaya yang bertuliskan “kesempatan”. Terima kasih Allah. Saya diterima di sebuah perguruan TInggi Negeri di Depok, namun dengan jurusan yang bukan passion saya. Angin baik kembali menyapu raut wajah bahagia saya dengan tertulisnya nama saya di website Paramadina yang menyebutkan bahwa saya  lolos  di jurusan yang saya inginkan dan bisa kuliah gratis sampai dengan lulus* (*Syarat dan ketentuan IP minimum tetap berlaku yaaa).

Allah.. saya bahagia tapi saya bingung harus pilih yang mana. Hingga pada akhirnya kalian tentu tahu, ya saya memilih Paramadina, dan meninggalkan kesempatan menjadi siswa PTN favorit. Saat itu saya yakin kerena ada beberapa faktor pertimbangan yang lebih membuat saya condong memilh paramadina yakini:

  1. Jaraknya dekat, jadi meskipun saya tidak punya ongkos, saya tetap bisa kuliah dan terbukti, saya pernah sama sekali tidak pegang uang, namun masih tetap datang ke perkuliahan.
  2. Beasiswa ini full sampai lulus, kalau di PTN meskipun ada bantuan dari yayasan tentunya saya harus berpikir untuk bisa membayar sisa uang kuliah nantinya.
  3. Saya bisa menempuh pendidikan sesuai dengan passion saya dan jurusan yang sudah lama saya idam-idamkan.

Ya, setidaknya 3 faktor itu meyakinkan saya, untuk memilihnya.